Rabu, 27 November 2013 0 komentar

artikel arina


PERPUSTAKAAN ISLAM TERTUA SE-ASIA TENGGARA, ZAUYAH TANOH ABEE
Oleh : Arina Faila Saufa

Perpustakaan Tanoh Abee atau lebih dikenal sebagai Zauyah Tanoh Abee merupakan perpustakaan islam tertua se-Asia Tenggara. Perpustakaan ini sudah ada sejak abad 16 M tepatnya di desa tanoh abee kecamatan seulimeum kabupaten Aceh Besar. Letak perpustakaan kuno ini memang jauh dari kota Banda Aceh dan Aceh Besar, sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk menempuh jalan ke Perpustakaan tersebut dari pusat kota.
Pada tanggal 24 november 2013, saya bersama sopari mahasiswa jurusan s1 ilmu perpustakaan sebagai delegasi dari Universitas Diponegoro telah mengunjungi perpustakaan tersebut. Kami datang bersama dengan teman-teman delegasi lainnya. Kunjungan ini dilakukan setelah melaksanakan musyawarah kerja nasional himpunan mahasiswa perpustakaan informasi Indonesia yang diikuti oleh universitas yang terdaftar di seluruh Indonesia pada tanggal 22-23 november 2013 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh sebagai tuan rumah.
Perpustakaan kuno tanoh abee sebenarnya adalah perpustakaan pribadi milik keluarga Al-Fairusi , artinya koleksi yang ada di dalamnya memang tidak untuk dipinjamkan. Sekarang perpustakaan tersebut telah dipegang oleh keturunan ke-sembilan dari keluarga Al-Fairusi. Ada sekitar 4000 judul buku koleksi yang ada di perpustakaan kuno ini yang semuanya adalah ditulis tangan. Koleksi-koleksi tersebut merupakan manuskrip-manuskrip kuno tentang pengetahuan islam seperti ilmu Fiqih, ilmu tasawuf, ilmu ibadah, ilmu penciptaan alam serta sejarah dan kebudayaan aceh dari abad 16 hingga 19 M. kitab-kitab tersebut tidak boleh dibaca oleh sembarang orang, dikarenakan isinya yang sangat tidak mampu untuk dipahami oleh manusia biasa sehingga dikhawatirkan bisa menjadikan murtad. Semua kitab ini ditulis dengan bahasa arab oleh ulama-ulama aceh bahkan Timur Tengah sejak terjadinya perang aceh melawan Belanda pada tahun 1873-1913 M. “Dulunya masih berjumlah sekitar 6000 judul buku, tetapi ada beberapa judul buku yang rusak termakan rayap, ada juga yang dibakar oleh Belanda, dan ada juga yang hilang terseret ombak tsunami.” Ujar, ummi istri alm.Abu Muhammad Dahlan al-Fairussy al-Baghdady, yang sekarang sebagai pemilik perpustakaan tersebut.
Banyak sekali ilmuan yang telah meneliti perpustakaan ini. Tidak hanya dari Indonesia, peneliti dari Jepang, Malaysia,  dan Belanda juga sudah banyak yang berkunjung dan meneliti perpustakaan kuno ini. Banyak juga yang menawarkan bantuan dan kerjasama kepada perpustakaan tersebut, tapi tidak semua diterima oleh Ummi sebagai pewaris perpustakaan. Karena perpustakaan tersebut merupakan wasiat yang harus benar-benar dijaga. Ada satu hal yang aneh dari perpustakaan ini, perpustakaan ini tidak membolehkan wanita untuk masuk ke dalam ruang koleksinya. Lagi-lagi ini adalah wasiat dari Alm. Abu yang harus dijalankan.
Kondisi perpustakaan kuno ini sangat memprihatinkan. Tidak seperti perpustakaan yang lain. Bangunannyapun juga masih sangat kuno dan tua. Pemerintah Indonesia khususnya aceh sudah seringkali datang ke tempat ummi. Mereka sudah banyak menjanjikan untuk merenovasi dan melestarikan perpustakaan kuno ini. Karena perpustakaan ini memang sebagai aset kebudayaan dan sejarah masyarakat aceh. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak juga merealisasikannya. “ banyak juga pejabat-pejabat aceh yang datang ke sini. Katanya mereka mau merenovasi perpustakaan ini. Tapi setelah selesai meneliti, mereka pulang dan lupa dengan semua janji-janjinya. Malahan orang dari jepanglah yang sudah membantu melestarikan dan memberikan sumbangan kepada kami.” Kata Ummi. Lantas kemana rasa peduli pemerintah Indonesia terhadap kebudayaannya sendiri? Mungkin pembaca juga memiliki pendapat sendiri tentang peristiwa ini. Penulis berharap agar pembaca juga bisa memberikan solusi dan pemikiran untuk kebaikan perpustakaan ini. Agar perpustakaan kuno di Aceh ini bisa tetap ada dan terus menjaga sejarah kebudayaan masyarakat Aceh.
Sekian coretan dari penulis. Semoga bermanfaat untuk kita semua khususnya untuk orang yang berkecimpung di dunia perpustakaan, dan untuk kakak angkatan serta teman-teman mahasiswa ilmu perpustakaan universitas diponegoro. Semoga bisa menjadi tambahan informasi serta bisa dijadikan rekomendasi bahan penelitian. 
dokumentasi saat wawancara dengan Ummi :
 
Dokumentasi perpustakaan kuno Aceh :

Dokumentasi contoh koleksi kitab perpustakaan kuno Aceh :



Minggu, 03 November 2013 0 komentar
"Embun Pagi"
Dinginmu menyerap tubuhku
Kala tetesmu jatuh melayang
Bagai daun gugur di musim semi

Jernih hiasi warnamu
Tat kala kuasa-Nya mencipta
dengan indah tanpa keraguan

Sungguh kuasa nan Agung
tiada henti Engkau alirkan Rahmat-Mu
Tanpa noda Engkau limpahkan segala berkah dan puji-Mu

Tuhan, selalu jaga aku dan mereka dalam kebaikan-Mu
 

 
;