PERPUSTAKAAN ISLAM TERTUA SE-ASIA
TENGGARA, ZAUYAH TANOH ABEE
Oleh
: Arina Faila Saufa
Perpustakaan
Tanoh Abee atau lebih dikenal sebagai Zauyah Tanoh Abee merupakan perpustakaan
islam tertua se-Asia Tenggara. Perpustakaan ini sudah ada sejak abad 16 M tepatnya
di desa tanoh abee kecamatan seulimeum kabupaten Aceh Besar. Letak perpustakaan
kuno ini memang jauh dari kota Banda Aceh dan Aceh Besar, sehingga butuh waktu
yang cukup lama untuk menempuh jalan ke Perpustakaan tersebut dari pusat kota.
Pada
tanggal 24 november 2013, saya bersama sopari mahasiswa jurusan s1 ilmu
perpustakaan sebagai delegasi dari Universitas Diponegoro telah mengunjungi
perpustakaan tersebut. Kami datang bersama dengan teman-teman delegasi lainnya.
Kunjungan ini dilakukan setelah melaksanakan musyawarah kerja nasional himpunan
mahasiswa perpustakaan informasi Indonesia yang diikuti oleh universitas yang
terdaftar di seluruh Indonesia pada tanggal 22-23 november 2013 di UIN
Ar-Raniry Banda Aceh sebagai tuan rumah.
Perpustakaan
kuno tanoh abee sebenarnya adalah perpustakaan pribadi milik keluarga
Al-Fairusi , artinya koleksi yang ada di dalamnya memang tidak untuk
dipinjamkan. Sekarang perpustakaan tersebut telah dipegang oleh keturunan
ke-sembilan dari keluarga Al-Fairusi. Ada sekitar 4000 judul buku koleksi yang
ada di perpustakaan kuno ini yang semuanya adalah ditulis tangan.
Koleksi-koleksi tersebut merupakan manuskrip-manuskrip kuno tentang pengetahuan
islam seperti ilmu Fiqih, ilmu tasawuf, ilmu ibadah, ilmu penciptaan alam serta
sejarah dan kebudayaan aceh dari abad 16 hingga 19 M. kitab-kitab tersebut
tidak boleh dibaca oleh sembarang orang, dikarenakan isinya yang sangat tidak
mampu untuk dipahami oleh manusia biasa sehingga dikhawatirkan bisa menjadikan
murtad. Semua kitab ini ditulis dengan bahasa arab oleh ulama-ulama aceh bahkan
Timur Tengah sejak terjadinya perang aceh melawan Belanda pada tahun 1873-1913
M. “Dulunya masih berjumlah sekitar 6000 judul buku, tetapi ada beberapa judul
buku yang rusak termakan rayap, ada juga yang dibakar oleh Belanda, dan ada
juga yang hilang terseret ombak tsunami.” Ujar, ummi istri alm.Abu Muhammad
Dahlan al-Fairussy al-Baghdady, yang sekarang sebagai pemilik perpustakaan
tersebut.
Banyak
sekali ilmuan yang telah meneliti perpustakaan ini. Tidak hanya dari Indonesia,
peneliti dari Jepang, Malaysia, dan Belanda
juga sudah banyak yang berkunjung dan meneliti perpustakaan kuno ini. Banyak
juga yang menawarkan bantuan dan kerjasama kepada perpustakaan tersebut, tapi
tidak semua diterima oleh Ummi sebagai pewaris perpustakaan. Karena
perpustakaan tersebut merupakan wasiat yang harus benar-benar dijaga. Ada satu
hal yang aneh dari perpustakaan ini, perpustakaan ini tidak membolehkan wanita
untuk masuk ke dalam ruang koleksinya. Lagi-lagi ini adalah wasiat dari Alm.
Abu yang harus dijalankan.
Kondisi
perpustakaan kuno ini sangat memprihatinkan. Tidak seperti perpustakaan yang
lain. Bangunannyapun juga masih sangat kuno dan tua. Pemerintah Indonesia
khususnya aceh sudah seringkali datang ke tempat ummi. Mereka sudah banyak
menjanjikan untuk merenovasi dan melestarikan perpustakaan kuno ini. Karena
perpustakaan ini memang sebagai aset kebudayaan dan sejarah masyarakat aceh.
Tetapi pada kenyataannya mereka tidak juga merealisasikannya. “ banyak juga pejabat-pejabat
aceh yang datang ke sini. Katanya mereka mau merenovasi perpustakaan ini. Tapi
setelah selesai meneliti, mereka pulang dan lupa dengan semua janji-janjinya.
Malahan orang dari jepanglah yang sudah membantu melestarikan dan memberikan sumbangan
kepada kami.” Kata Ummi. Lantas kemana rasa peduli pemerintah Indonesia
terhadap kebudayaannya sendiri? Mungkin pembaca juga memiliki pendapat sendiri
tentang peristiwa ini. Penulis berharap agar pembaca juga bisa memberikan
solusi dan pemikiran untuk kebaikan perpustakaan ini. Agar perpustakaan kuno di
Aceh ini bisa tetap ada dan terus menjaga sejarah kebudayaan masyarakat Aceh.
Sekian
coretan dari penulis. Semoga bermanfaat untuk kita semua khususnya untuk orang
yang berkecimpung di dunia perpustakaan, dan untuk kakak angkatan serta
teman-teman mahasiswa ilmu perpustakaan universitas diponegoro. Semoga bisa
menjadi tambahan informasi serta bisa dijadikan rekomendasi bahan penelitian.
dokumentasi saat wawancara dengan Ummi :
dokumentasi saat wawancara dengan Ummi :
Dokumentasi
perpustakaan kuno Aceh :
Dokumentasi
contoh koleksi kitab perpustakaan kuno Aceh :

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact