Pendidikan Karakter Ala Pedesaan
Memberi fasilitas pendidikan untuk anak tidak melulu tentang sekolah elite, terkenal dan mahal. Tetapi, bagaimana orang tua dan masyarakat bisa menjadi fasilitator utama bagi pendidikan mereka. Mendidik anak juga bukan hanya tentang bagaimana mereka pintar dalam matematika, bahasa inggis, fisika atau kimia, karena pada padasarnya, mendidik anak adalah membentuk karakter pribadi mereka menjadi manusia yang baik, benar, dan bermanfaat.
Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, saya sampai pada sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) di desa Kepek. Wilayah ini tidak jauh dari pesisir pantai selatan Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Layaknya tempat baca pada umumnya, TBM bernama Kuncup Mekar ini menyediakan berbagai macam buku bacaan yang ditata di rak koleksi di pojok ruangan. Ada dua buah komputer, satu layar tv LED ukuran 32 inch, papan struktur organisasi dan beberapa trophy kejuaraan juga saya lihat di sana. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya waktu itu adalah ada beberapa celengan berbahan plastik warna-warni yang dijajar rapi di rak bagian pojok lainnya. Saya mendekat ke rak itu dan melihat tertulis beberapa nama di masing-masing celengan, diantaranya anita, dewi, dan arif.
| Suasana di Luar Ruangan TBM Kuncup Mekar |
| Beberapa Anak Terlihat sedang Belajar di TBM Kuncup Mekar |
Tidak lama kemudian, saya mendengar suara anak-anak berbondong memasuki ruangan TBM. Jumlah mereka tidak begitu banyak, sekitar 12 (dua belas) anak menggendong tas masing-masing dan salah satu dari mereka membawa plastik berisi buah-buahan. Pada saat itu saya tahu bahwa TBM Kuncup Mekar tidak hanya menjadi fasilitas perpustakaan bagi masyarakat desa Kepek, tetapi para pengurus juga membuka les private bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) di desa itu dan gratis. Saya bertanya kepada salah satu anak, ”Kok bawa buah-buahan, mau dibuat apa dek?”, tanpa bertanya namanya siapa. Lalu, anak laki-laki itu menjawab, ”Mau buat rujak mbak. Sebelum belajar enaknya nge-rujak dulu”, sambil sedikit senyum.
Belum ada banyak pengurus TBM yang datang waktu itu. Saya hanya ditemani salah satu pengurus yang tinggal di TBM, dan sempat pamit keluar sebentar sehingga hanya ada saya dan anak-anak yang sedang menyiapkan rujak. Saya pun ikut membantu mereka mengupas buah-buahan tersebut. Mereka bercerita bahwa buah-buahan tersebut didapatkan dari salah satu temannya yang mempunyai beberapa pohon buah. Ada belimbing, mangga, mentimun, dan pepaya. Memang buah-buahan tersebut banyak ditemui pohonnya di rumah-rumah warga di pedesaan, sehingga tidak heran jika mereka mendapatkannya. Sambil mengupas buah-buahan, beberapa anak perempuan yang lain terlihat sedang mencari peralatan cobek dan bahan membuat sambal rujak seperti cabai, gula merah, dan garam di dapur. Mereka terlihat sangat bahagia dan menikmatinya.
Di sela-sela waktu membuat rujak, salah satu anak perempuan bertanya kepada yang lain. ”Eh, do nabung meneh opo ora iki? (Eh, mau pada nabung lagi tidak ini?)”. Temannya yang lain menjawab, ”Nabung to yo, sesok kan arep gantian di enggo sedekah neng bapake Aris”, (Ya nabung dong, besok kan gantian mau dibuat sedekah untuk bapaknya Aris)”. Mendengar percakapan mereka, kemudian saya tertarik untuk menanyakan sesuatu hal yang sejak tadi membuat saya penasaran, yaitu tentang celengan. Saya bertanya kepada mereka tentang kenapa mereka menabung di TBM, berapa uang yang biasanya mereka tabung, untuk apa uang tabungan tersebut, hingga seperti apa pengelolaan tabungan mereka.
Setelah mereka bercerita, ternyata mereka menabung di TBM atas kemauan mereka sendiri. Mereka menjelaskan bahwa ide menabung tersebut muncul setelah mendapatkan materi tentang sedekah dari pengurus TBM beberapa bulan sebelumnya. Mereka mendapatkan pengetahuan bahwa sedekah adalah ibadah yang sangat mulia dan dapat membantu orang lain yang mempunyai kesulitan ekonomi, sehingga mereka memutuskan menabung yang tujuannya adalah untuk disedekahkan. Uang yang mereka masukkan ke dalam celengan tidak banyak, sekitar Rp 500,00 sampai Rp.2.000,00. Itupun bukan uang dari hasil meminta kepada orang tua mereka secara khusus untuk ditabung, tetapi uang yang mereka sisihkan sendiri dari uang saku sekolah.
Mendengar cerita tersebut, hati saya langsung tergoncang. Bagaimana anak-anak seusia mereka bisa berpikir sedemikian baik dan mulia. Padahal kita tahu bahwa kondisi masyarakat di pedesaan sangat jauh dari masyarakat perkotaan, baik dari segi ekonomi maupun fasilitas pendidikan. Mayoritas orang tua mereka adalah petani, pedagang, dan nelayan yang tentu penghasilannya tidak seberapa. Rumah-rumah mereka juga sangat sederhana. Tidak semua rumah mereka dari tembok yang bisa digonta-ganti warna catnya, tetapi banyak juga yang masih dari papan kayu berwarna cokelat yang mudah dimasuki angin dan air hujan. Mereka hanya mengandalkan hasil laut, pertanian, dan peternakan yang hasilnya sangat tidak menentu. Tetapi ternyata mereka mau menyisihkan uang saku mereka dan kemudian di tabung di celengan setiap dua hari sekali.
Salah satu pengurus TBM juga menjelaskan bahwa, uang yang mereka tabung akan dibuka dan dikumpulkan sebulan sekali. Sedikitnya ada sekitar 17 celengan atau 17 anak yang ikut dalam program “Menabung untuk Berbagi” ini. Setelah dikumpulkan, uang tersebut akan dibelanjakan mereka sendiri untuk bahan-bahan sembako, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, teh, dan susu. ”Ya mereka sendiri yang akan belanja. Mereka sendiri yang menentukan mau beli apa. Tapi memang kami sarankan untuk bahan sembako saja”, jelas Taufik, pengurus TBM. Dan nantinya mereka juga yang akan memilih siapa saja yang akan mendapatkan bantuan sedekah.
| Kondisi di dalam Ruangan TBM Kuncup Mekar |
Dari cerita tersebut saya teringat dengan salah satu tulisan berjudul “3 Cara Mengoptimalkan Karakter Anak” yang saya baca dari halaman website Sahabat Keluarga milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, bahwa ada 3 cara mengoptimalkan karakter anak yaitu, membangun suasana berprestasi, peka terhadap kebutuhan masyarakat, dan memberi keleluasaan untuk berkuasa. Saya sangat setuju bahwa bekal utama pendidikan anak adalah membekali mereka dengan pendidikan karakter, karena pendidikan karakter inilah yang akan membentuk moral baik bagi anak yang terkadang tidak didapatkan mereka dari sekolah. Dan yang seharusnya menjadi fasilitator utama dalam membentuk pendidikan karakter adalah keluarga dan masyarakat. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4905
Melihat contoh kasus di atas, anak-anak yang belajar di TBM rela menyisihkan uang untuk disedekahkan kepada masyarakat yang kesusahan dalam ekonomi. Hal ini menunjukkan ada sebuah pendidikan karakter luar biasa yang mereka dapatkan dari kegiatan menabung tersebut. Tidak hanya pengalaman tolong menolong, tetapi juga keikhlasan dalam menyisihkan sebagian rejeki mereka untuk orang lain yang belum tentu dimiliki oleh orang dewasa. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang sangat dibutuhkan bagi anak usia dini di era perkembangan teknologi sekarang. Melihat kondisi saat ini, anak-anak sudah mulai menggunakan gadget, sehingga menjadi apatis dan kepeduliaan mereka terhadap lingkungan pelan-pelan mati. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan bermain gadget dan memutus hubungan sosial mereka dengan yang lain.
Adanya sikap peduli dengan sesama, peka dengan permasalahan lingkungan, dan sikap saling menyayangi harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Seperti halnya anak-anak di TBM Kuncup Mekar tersebut, apakah mereka bisa berpikir sedemikian rupa tanpa ada pengaruh dari luar diri mereka? Jelas saja tidak. Lalu, siapa sebenarnya yang mampu membentuk karakter mereka? Jawabannya adalah kaeluarga dan masyarakat. Kenapa keluarga? Saya percaya bahwa anak-anak tersebut telah diberi ruang dan waktu yang baik dari orang tuanya. Mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pemikiran mereka melalui lingkungan, masyarakat dan teman yang baik. Apa jadinya jika anak-anak tersebut tidak diperbolehkan orang tuanya untuk ikut belajar di TBM, tidak boleh bermain dengan teman-teman yang lain, atau sangat dibatasi ruang geraknya sehingga harus banyak di rumah. Saya yakin perkembangan si anak tidak akan bisa seperti apa yang dilakukan sekarang ini.
Selain dukungan positif dari keluarga, dalam hal ini adalah orang tua, anak-anak yang banyak beraktivitas di TBM Kuncup Mekar ternyata mendapatkan dampak yang sangat baik dari program yang dilakukan TBM. Program yang dilakukan bernama One Home One Library (OHOL) atau satu rumah satu perpustakaan. Program OHOL ini sudah berjalan sejak 2016 lalu dan menjadi program kreatif pertama yang dilakukan oleh TBM di Yogyakarta. Para pengurus TBM memberikan fasilitas pojok baca di masing-masing rumah warga, dan hingga kini sudah ada sekitar 126 rumah warga yang terfasilitasi program ini. Adanya pojok baca di masing-masing rumah ternyata mampu membentuk kebiasaan membaca bagi para orang tua dan berimbas pada anak mereka. Hal inilah yang membuat masyarakat desa Kepek mulai mempunyai kepedulian terhadap literasi informasi, sehingga mindset mereka terhadap pendidikan karakter bagi anak semakin terbuka.
Setiap pojok baca, pengurus TBM memfasilitas 7 hingga 10 buku dengan berbagai topik, seperti pertanian, peternakan, pendidikan, bisnis, dan juga agama. Uniknya, buku-buku tersebut akan di rolling 2 minggu sekali dari rumah ke rumah sehingga setiap keluarga mendapatkan bacaan yang beragam setiap 2 minggu sekali. Menariknya, bukan pengurus TBM yang melakukannya, tetapi anak-anak SD hingga SMP di lingkungan tersebut.
| Arif dengan Pojok Baca di Rumahnya |
| Keluarga Arif sedang Beraktivitas di Depan Rumahnya |
![]() |
| Salah Satu Warga sedang Asik Membaca di Depan Rumah |
Kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang terbuka dan literate inilah yang mampu membentuk karakter pribadi anak menjadi manusia yang tidak hanya pintar akademik, tetapi juga mempunyai sikap dan moral yang baik. Hal ini dapat dilihat dari cerita kedua belas anak di TBM yang mau menyisihkan uangnya untuk disedekahkan, karena mendapatkan pengaruh positif dari keluarga dan masyarakat. Cukup dengan menyisihkan uang Rp 2.000 saja dalam 2 hari, mereka mampu mendapatkan pendidikan yang sangat berharga. Apakah semua orang dewasa bisa melakukannya? Dari hal tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa sudah bukan saatnya lagi memanjakan anak dengan memberikan mereka banyak uang, tetapi ajari mereka bagaimana menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang mulia. Selain itu, ada beberapa kontribusi yang bisa diberikan keluarga dan masyarakat dalam membentuk karakter anak, diantaranya:
1. Memberi ruang dan waktu untuk eksplorasi
Setiap anak membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi segala hal di lingkungannya. Seringnya, orang tua sangat khawatir ketika anak-anak mulai mencoba ingin tahu lebih tentang sesuatu hal yang belum dia ketahui sebelumnya. Hal ini justru membuat anak seakan dibatasi ruang geraknya sehingga menjadi takut untuk mencoba hal-hal baru yang justru dapat mengembangkan pola pikirnya. Orang tua harus mencoba memberi kesempatan mereka untuk mengekspresikan keingintahuan mereka dengan memberi ruang dan waktu untuk bereksplorasi, seperti memberi kesempatan mencoba hal-hal baru yang positif, mendukung dan memotivasi apa yang menjadi bakatnya, dan tidak membatasi mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan.
2. Menciptakan atmosphere positif di dalam keluarga
Rumah menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anak, sehingga aktivitas apa saja yang berlangsung di dalam rumah akan menjadi sumber pembelajaran bagi anak. Untuk membentuk karakter pribadi anak yang baik, orang tua harus menyajikan sikap dan perilaku yang baik juga dengan semua anggota keluarga. Artinya, orang tua harus menciptakan atmosphere yang positif bagi anak, sehingga apa yang anak dengar, lihat, dan pahami adalah hal-hal yang baik. Mulai dari anak bangun dari tidur hingga mereka tidur kembali harus diisi dengan hal-hal yang positif.
3. Menjadi contoh untuk dicontoh
Seringkali orang tua memaksa anak mereka untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya itu belum atau bahkan tidak dilakukan orang tuanya. Misalnya saja orang tua menyuruh anaknya untuk belajar atau membaca, tetapi pada saat itu mereka tidak mencontohkan hal serupa, atau orang tua melarang anaknya untuk menonton televisi pada waktu sholat maghrib, tetapi orang tuanya sendiri malah menonton televisi. Hal-hal semacam ini yang akan membuat anak tidak percaya dengan apa yang diminta oleh orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya dapat memberikan contoh terlebih dahulu baru meminta anaknya untuk mencontohnya.
#sahabatkeluarga














- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact