Minggu, 05 Agustus 2018 0 komentar

Pendidikan Berharga, Seharga Dua Ribu Rupiah

Pendidikan Karakter Ala Pedesaan


Memberi fasilitas pendidikan untuk anak tidak melulu tentang sekolah elite, terkenal dan mahal. Tetapi, bagaimana orang tua dan masyarakat bisa menjadi fasilitator utama bagi pendidikan mereka. Mendidik anak juga bukan hanya tentang bagaimana mereka pintar dalam matematika, bahasa inggis, fisika atau kimia, karena pada padasarnya, mendidik anak adalah membentuk karakter pribadi mereka menjadi manusia yang baik, benar, dan bermanfaat.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, saya sampai pada sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) di desa Kepek. Wilayah ini tidak jauh dari pesisir pantai selatan Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Layaknya tempat baca pada umumnya, TBM bernama Kuncup Mekar ini menyediakan berbagai macam buku bacaan yang ditata di rak koleksi di pojok ruangan. Ada dua buah komputer, satu layar tv LED ukuran 32 inch, papan struktur organisasi dan beberapa trophy kejuaraan juga saya lihat di sana. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya waktu itu adalah ada beberapa celengan berbahan plastik warna-warni yang dijajar rapi di rak bagian pojok lainnya. Saya mendekat ke rak itu dan melihat tertulis beberapa nama di masing-masing celengan, diantaranya anita, dewi, dan arif.

Suasana di Luar Ruangan TBM Kuncup Mekar

Beberapa Anak Terlihat sedang Belajar di TBM Kuncup Mekar

Tidak lama kemudian, saya mendengar suara anak-anak berbondong memasuki ruangan TBM. Jumlah mereka tidak begitu banyak, sekitar 12 (dua belas) anak menggendong tas masing-masing dan salah satu dari mereka membawa plastik berisi buah-buahan. Pada saat itu saya tahu bahwa TBM Kuncup Mekar tidak hanya menjadi fasilitas perpustakaan bagi masyarakat desa Kepek, tetapi para pengurus juga membuka les private bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) di desa itu dan gratis. Saya bertanya kepada salah satu anak, ”Kok bawa buah-buahan, mau dibuat apa dek?”, tanpa bertanya namanya siapa. Lalu, anak laki-laki itu menjawab, ”Mau buat rujak mbak. Sebelum belajar enaknya nge-rujak dulu”, sambil sedikit senyum.

Belum ada banyak pengurus TBM yang datang waktu itu. Saya hanya ditemani salah satu pengurus yang tinggal di TBM, dan sempat pamit keluar sebentar sehingga hanya ada saya dan anak-anak yang sedang menyiapkan rujak. Saya pun ikut membantu mereka mengupas buah-buahan tersebut. Mereka bercerita bahwa buah-buahan tersebut didapatkan dari salah satu temannya yang mempunyai beberapa pohon buah. Ada belimbing, mangga, mentimun, dan pepaya. Memang buah-buahan tersebut banyak ditemui pohonnya di rumah-rumah warga di pedesaan, sehingga tidak heran jika mereka mendapatkannya. Sambil mengupas buah-buahan, beberapa anak perempuan yang lain terlihat sedang mencari peralatan cobek dan bahan membuat sambal rujak seperti cabai, gula merah, dan garam di dapur. Mereka terlihat sangat bahagia dan menikmatinya.

Di sela-sela waktu membuat rujak, salah satu anak perempuan bertanya kepada yang lain. ”Eh, do nabung meneh opo ora iki? (Eh, mau pada nabung lagi tidak ini?)”. Temannya yang lain menjawab, ”Nabung to yo, sesok kan arep gantian di enggo sedekah neng bapake Aris”, (Ya nabung dong, besok kan gantian mau dibuat sedekah untuk bapaknya Aris)”. Mendengar percakapan mereka, kemudian saya tertarik untuk menanyakan sesuatu hal yang sejak tadi membuat saya penasaran, yaitu tentang celengan. Saya bertanya kepada mereka tentang kenapa mereka menabung di TBM, berapa uang yang biasanya mereka tabung, untuk apa uang tabungan tersebut, hingga seperti apa pengelolaan tabungan mereka.

Setelah mereka bercerita, ternyata mereka menabung di TBM atas kemauan mereka sendiri. Mereka menjelaskan bahwa ide menabung tersebut muncul setelah mendapatkan materi tentang sedekah dari pengurus TBM beberapa bulan sebelumnya. Mereka mendapatkan pengetahuan bahwa sedekah adalah ibadah yang sangat mulia dan dapat membantu orang lain yang mempunyai kesulitan ekonomi, sehingga mereka memutuskan menabung yang tujuannya adalah untuk disedekahkan. Uang yang mereka masukkan ke dalam celengan tidak banyak, sekitar Rp 500,00 sampai Rp.2.000,00. Itupun bukan uang dari hasil meminta kepada orang tua mereka secara khusus untuk ditabung, tetapi uang yang mereka sisihkan sendiri dari uang saku sekolah.

Mendengar cerita tersebut, hati saya langsung tergoncang. Bagaimana anak-anak seusia mereka bisa berpikir sedemikian baik dan mulia. Padahal kita tahu bahwa kondisi masyarakat di pedesaan sangat jauh dari masyarakat perkotaan, baik dari segi ekonomi maupun fasilitas pendidikan. Mayoritas orang tua mereka adalah petani, pedagang, dan nelayan yang tentu penghasilannya tidak seberapa. Rumah-rumah mereka juga sangat sederhana. Tidak semua rumah mereka dari tembok yang bisa digonta-ganti warna catnya, tetapi banyak juga yang masih dari papan kayu berwarna cokelat yang mudah dimasuki angin dan air hujan. Mereka hanya mengandalkan hasil laut, pertanian, dan peternakan yang hasilnya sangat tidak menentu. Tetapi ternyata mereka mau menyisihkan uang saku mereka dan kemudian di tabung di celengan setiap dua hari sekali.

Salah satu pengurus TBM juga menjelaskan bahwa, uang yang mereka tabung akan dibuka dan dikumpulkan sebulan sekali. Sedikitnya ada sekitar 17 celengan atau 17 anak yang ikut dalam program “Menabung untuk Berbagi” ini. Setelah dikumpulkan, uang tersebut akan dibelanjakan mereka sendiri untuk bahan-bahan sembako, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, teh, dan susu. ”Ya mereka sendiri yang akan belanja. Mereka sendiri yang menentukan mau beli apa. Tapi memang kami sarankan untuk bahan sembako saja”, jelas Taufik, pengurus TBM. Dan nantinya mereka juga yang akan memilih siapa saja yang akan mendapatkan bantuan sedekah.

Kondisi di dalam Ruangan TBM Kuncup Mekar


Dari cerita tersebut saya teringat dengan salah satu tulisan berjudul “3 Cara Mengoptimalkan Karakter Anak” yang saya baca dari halaman website Sahabat Keluarga milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, bahwa ada 3 cara mengoptimalkan karakter anak yaitu, membangun suasana berprestasi, peka terhadap kebutuhan masyarakat, dan memberi keleluasaan untuk berkuasa. Saya sangat setuju bahwa bekal utama pendidikan anak adalah membekali mereka dengan pendidikan karakter, karena pendidikan karakter inilah yang akan membentuk moral baik bagi anak yang terkadang tidak didapatkan mereka dari sekolah. Dan yang seharusnya menjadi fasilitator utama dalam membentuk pendidikan karakter adalah keluarga dan masyarakat. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4905


Melihat contoh kasus di atas, anak-anak yang belajar di TBM rela menyisihkan uang untuk disedekahkan kepada masyarakat yang kesusahan dalam ekonomi. Hal ini menunjukkan ada sebuah pendidikan karakter luar biasa yang mereka dapatkan dari kegiatan menabung tersebut. Tidak hanya pengalaman tolong menolong, tetapi juga keikhlasan dalam menyisihkan sebagian rejeki mereka untuk orang lain yang belum tentu dimiliki oleh orang dewasa. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang sangat dibutuhkan bagi anak usia dini di era perkembangan teknologi sekarang. Melihat kondisi saat ini, anak-anak sudah mulai menggunakan gadget, sehingga menjadi apatis dan kepeduliaan mereka terhadap lingkungan pelan-pelan mati. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan bermain gadget dan memutus hubungan sosial mereka dengan yang lain.

Adanya sikap peduli dengan sesama, peka dengan permasalahan lingkungan, dan sikap saling menyayangi harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Seperti halnya anak-anak di TBM Kuncup Mekar tersebut, apakah mereka bisa berpikir sedemikian rupa tanpa ada pengaruh dari luar diri mereka? Jelas saja tidak. Lalu, siapa sebenarnya yang mampu membentuk karakter mereka? Jawabannya adalah kaeluarga dan masyarakat. Kenapa keluarga? Saya percaya bahwa anak-anak tersebut telah diberi ruang dan waktu yang baik dari orang tuanya. Mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pemikiran mereka melalui lingkungan, masyarakat dan teman yang baik. Apa jadinya jika anak-anak tersebut tidak diperbolehkan orang tuanya untuk ikut belajar di TBM, tidak boleh bermain dengan teman-teman yang lain, atau sangat dibatasi ruang geraknya sehingga harus banyak di rumah. Saya yakin perkembangan si anak tidak akan bisa seperti apa yang dilakukan sekarang ini.

Selain dukungan positif dari keluarga, dalam hal ini adalah orang tua, anak-anak yang banyak beraktivitas di TBM Kuncup Mekar ternyata mendapatkan dampak yang sangat baik dari program yang dilakukan TBM. Program yang dilakukan bernama One Home One Library (OHOL) atau satu rumah satu perpustakaan. Program OHOL ini sudah berjalan sejak 2016 lalu dan menjadi program kreatif pertama yang dilakukan oleh TBM di Yogyakarta. Para pengurus TBM memberikan fasilitas pojok baca di masing-masing rumah warga, dan hingga kini sudah ada sekitar 126 rumah warga yang terfasilitasi program ini. Adanya pojok baca di masing-masing rumah ternyata mampu membentuk kebiasaan membaca bagi para orang tua dan berimbas pada anak mereka. Hal inilah yang membuat masyarakat desa Kepek mulai mempunyai kepedulian terhadap literasi informasi, sehingga mindset mereka terhadap pendidikan karakter bagi anak semakin terbuka.

Setiap pojok baca, pengurus TBM memfasilitas 7 hingga 10 buku dengan berbagai topik, seperti pertanian, peternakan, pendidikan, bisnis, dan juga agama. Uniknya, buku-buku tersebut akan di rolling 2 minggu sekali dari rumah ke rumah sehingga setiap keluarga mendapatkan bacaan yang beragam setiap 2 minggu sekali. Menariknya, bukan pengurus TBM yang melakukannya, tetapi anak-anak SD hingga SMP di lingkungan tersebut. 

Arif dengan Pojok Baca di Rumahnya

Keluarga Arif sedang Beraktivitas di Depan Rumahnya

Salah Satu Warga sedang Asik Membaca di Depan Rumah

Kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang terbuka dan literate inilah yang mampu membentuk karakter pribadi anak menjadi manusia yang tidak hanya pintar akademik, tetapi juga mempunyai sikap dan moral yang baik. Hal ini dapat dilihat dari cerita kedua belas anak di TBM yang mau menyisihkan uangnya untuk disedekahkan, karena mendapatkan pengaruh positif dari keluarga dan masyarakat. Cukup dengan menyisihkan uang Rp 2.000 saja dalam 2 hari, mereka mampu mendapatkan pendidikan yang sangat berharga. Apakah semua orang dewasa bisa melakukannya? Dari hal tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa sudah bukan saatnya lagi memanjakan anak dengan memberikan mereka banyak uang, tetapi ajari mereka bagaimana menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang mulia. Selain itu, ada beberapa kontribusi yang bisa diberikan keluarga dan masyarakat dalam membentuk karakter anak, diantaranya:

1. Memberi ruang dan waktu untuk eksplorasi
Setiap anak membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi segala hal di lingkungannya. Seringnya, orang tua sangat khawatir ketika anak-anak mulai mencoba ingin tahu lebih tentang sesuatu hal yang belum dia ketahui sebelumnya. Hal ini justru membuat anak seakan dibatasi ruang geraknya sehingga menjadi takut untuk mencoba hal-hal baru yang justru dapat mengembangkan pola pikirnya. Orang tua harus mencoba memberi kesempatan mereka untuk mengekspresikan keingintahuan mereka dengan memberi ruang dan waktu untuk bereksplorasi, seperti memberi kesempatan mencoba hal-hal baru yang positif, mendukung dan memotivasi apa yang menjadi bakatnya, dan tidak membatasi mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan.

2. Menciptakan atmosphere positif di dalam keluarga
Rumah menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anak, sehingga aktivitas apa saja yang berlangsung di dalam rumah akan menjadi sumber pembelajaran bagi anak. Untuk membentuk karakter pribadi anak yang baik, orang tua harus menyajikan sikap dan perilaku yang baik juga dengan semua anggota keluarga. Artinya, orang tua harus menciptakan atmosphere yang positif bagi anak, sehingga apa yang anak dengar, lihat, dan pahami adalah hal-hal yang baik. Mulai dari anak bangun dari tidur hingga mereka tidur kembali harus diisi dengan hal-hal yang positif.

3. Menjadi contoh untuk dicontoh
Seringkali orang tua memaksa anak mereka untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya itu belum atau bahkan tidak dilakukan orang tuanya. Misalnya saja orang tua menyuruh anaknya untuk belajar atau membaca, tetapi pada saat itu mereka tidak mencontohkan hal serupa, atau orang tua melarang anaknya untuk menonton televisi pada waktu sholat maghrib, tetapi orang tuanya sendiri malah menonton televisi. Hal-hal semacam ini yang akan membuat anak tidak percaya dengan apa yang diminta oleh orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya dapat memberikan contoh terlebih dahulu baru meminta anaknya untuk mencontohnya.

#sahabatkeluarga

Minggu, 23 Juli 2017 12 komentar

Pengalaman Mendaftar Beasiswa Unggulan: Sesi Wawancara

Assalamu'alaikum....
Selamat siang teman-teman semuanya. Semoga sehat dan selalu semangat menebar kebaikan dan manfaat bagi semua orang.
Nah, kali ini Saya, Arin, mau share tentang pengalaman mendaftar beasiswa unggulan (BU) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI. Setelah beberapa bulan lalu saya juga sudah share pengalaman mendaftar sampai pada tahap seleksi administrasi, kalau temen-temen belum baca bisa buka link ini http://arinafaila.blogspot.co.id/2016/09/pengalaman-mendaftar-beasiswa-unggulan.html.
Untuk kali ini, saya akan share pengalaman saya saat seleksi wawancaranya, dan alhamdulillah saya bisa lolos dan menjadi salah satu awardee beasiswa ini.
Oke, sebenarnya untuk wawancara adalah tahap akhir dimana seleksi ini adalah paling menentukan teman-teman diterima beasiswa atau tidak. So, tahap ini jangan dianggap remeh dan tetap serius latihan menjawab pertanyaan seputar wawancara beasiswa. Sedikit pengalaman saja, jadi menjelang waktu seleksi wawancara ini, ya mungkin sekitar 2 minggu sebelum hari-H gitu, Saya rajin nyari contoh pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan saat tes wawancara beasiswa. Soalnya banyak juga contoh pertanyaan yang bisa kalian temukan di internet. Nah, waktu itu saya nemu beberapa pertanyaan yang sepertinya sering muncul di seleksi wawancara dan akhirnya saya ketik ulang beserta jawabannya, terus saya print sebagai bahan latihan setiap harinya. hehehe.. serius banget gak si? soalnya kesempatan gk datang dua kali kan katanya, so i have to do my best for this one.
Hampir setiap hari ketika saya ada waktu pasti latihan wawancara. Soalnya waktu itu, saya masih berkerja jadi wartawan di salah satu surat kabar di Indonesia, jadi bayangkan saja gimana sibuknya, tapi tetap saja harus latihan. Dan tidak tanggung-tanggung juga, Saya sering lho latihan sendiri di depan kaca. soalnya butuh latihan kontak mata dan ekspresi yang pas. hehehe
Oke, bagi temen-temen yang sudah lolos administrasi dan bisa lanjut seleksi wawancara, ada beberapa masukan dari Saya sebagai bekal mengikuti seleksi, diantaranya:
Pertama, bawa semua berkas ASLI yang sudah kalian upload saat mendaftar pertama kali untuk seleksi administrasi. Kenapa? karena itu semua akan dilihat satu per satu oleh interviewer. Jadi jangan sampai ada yang ketinggalan ya..
Kedua, Kalian harus paham dan hapal hal-hal apa saja yang kalian tulis di proposal rencana studi. Karena itu juga menjadi bahan pertanyaan interviewer. Jangan sampai apa yang kalian sampaikan berbeda dengan apa yang kalian tulis.  Hal-hal kecil sampai dengan yang besar juga perlu kalian pahami. Misal, berapa mata kuliah yang diambil nanti, berapa jumlah sks-nya, dll.
Ketiga, Tampil yang rapi dan sopan, dan tidak perlu berlebihan.
Keempat, Jawab pertanyaan dengan baik. Hal ini meliputi ketegasan, kejelasan, tidak bertele-tele, dan penuh semangat dan keinginan bahwa kalian adalah orang yang pantas mendapat beasiswa ini.
Kelima, perhatikan posisi duduk dan cara melihat kalian saat wawancara. Posisi duduk harus tegap, dan jangan banyak melihat sekeliling. Kontak mata yang baik akan sangat berpengaruh dengan suasana saat wawanacara.
Yap mungkin itu yang perlu kalian siapkan, dan itu juga hanya masukan dari saya. Kalian perlu mencari referensi lain dari orang-orang yang mendapat beasiswa juga yah. Yang penting tetap semangat.. hehehe.
Sebagai tambahan semangat lagi buat kalian, jadi kalau udah dapat beasiswa itu rasanya seneeeeng banget. Kuliah tidak minta lagi sama orang tua. dan menurut saya, beasiswa unggulan ini sudah sangat cukup mencukupi kebutuhan kuliah kalian. Ya memang tidak sebanyak LPDP mungkin ya, tapi spertinya gak beda jauh lah, yang penting udah bisa buat bayar SPP dan biaya hidup. Dan buat saya yang kuliah di Jogja itu udah lumayan banget. Jadi, jangan sampai kelewat dan hilang begitu saja ya kesempatannya..

oh Iya kalau ada temen-temen yang mau lihat rangkuman daftar pertanyaan yang diajukan saat wawancara, bisa tinggalkan komentar dan alamat email kalian. Semoga bermanfaat ya.. Good luck
Kamis, 06 Juli 2017 0 komentar

LIBRARY INNOVATIONS

Library Innovation #5
Jadi Pustakawan Kece dan Fashionable

Assalamu’alaikum, Selamat sore semuanya....
Ketemu lagi nih dengan postingan Library Innovations dari Arin. Semoga selalu ada yang mengikuti dan membaca postingan saya ya... hehehe #ngarep

Oke deh, hari ini Arin mau bahas tentang fashion. Ayok yang cewek-cewek merapat ya... . Ups tapi fashion kali ini adalah fashion untuk pustakawan guys. Hehehe masih selalu tentang perpustakaan yaa...
Tapi jangan salah guys, menentukan fashion yang tepat untuk pustakawan itu bukan hal yang gampang ya. Pasti teman-teman masih banyak yang berpikiran bahwa pustakawan itu identik dengan perempuan tua, jutek, gak gauh, gak fashionable, pakai kacamata, dan galak. Iya kan? Nah sekarang ini sudah gak zaman guys pustakawan aya gitu. Pustakawan modern harus tampil cantik dan interaktif. Jadi ayo yang jadi pustakawa harus selalu memperhatikan penampilannya ya... hehehe

Kalau bicara tentang fashion atau pakaian sesungguhnya adalah berbicara tentang sesuatu yang erat dengan idiri kita, bener gak guys? Jadi gak salah kalau kata Thomas Carlyle, pakaian menjadi “perlambang jiwa” (emblems of the soul). Karena pakaian itu bisa menunjukkan siapa pemakainya, atau yang lebih keren kata Umberto Eco “I speak through my cloth”, eeeaaa. Hehhee
Pakaian yang kita pakai juga menampilkan berbagai fungsi. Bisa juga sebagai bentuk komunikasi, menyampaikan pesan artifaktual dan bersifat non verbal. Jadi seorang pustakawan juga perlu memperhatikan bentuk tampilannya karena dapat dijadikan sebagai komunikasi. Apalagi di perpustakaan adalah tempat banyak pemustaka yang pastinya selalu melihat penampilan kita. Begituuu

Oke sekarang ini saya pengen bahas dan sharing sama teman-teman tentang style atau fashion modern yang bisa dipakai pustakawan perempuan. Biar pustakawatinya tidak cupu dan harus up to date. Beberapa model fashion ini hanya referensi dari saya yang sekiranya bisa diterapkan di perpustakaan teman-teman.

1. Style Casual
Gaya kasual sebenarnya adalah gaya yang santai dan tidak formal. Apabila seseorang menggunakan pakaian bertema kasual akan terlihat lebih santai dan tidak kaku. Model ini sebenarnya cocok digunakan oleh pustawan ketika bekerja. Tapi style kasual tetap harus yang sopan ya. Teman-teman bisa menyesuaikan lingkungan di tempat kerja. Pakaian kasual yang biasa dikenakan adalah seperti celana jeans dan kemeja. Ada beberapa manfaat ketika teman-teman menggunakan pakaian kasual, seperti:
a. Menstimulasi munculnya kreativitas
Dengan menggunakan busana kasual memperlihatkan bahwa anda merupakan orang yang santai dan tidak dalam keadaan tertekan. Selain itu, kesan santai ini akan mempengaruhi anda dengan lingkungan seperti keakraban dan memperlancar proses pertukaran ide dan informasi.
b. Menghapus kesan kaku dan tertutup
Berpakaian kasul ternyata juga dapat membuang anggapan bahwa anda adalah orang yang tertutup. Kesan ini sangat menguntungkan bagi pustakawan agar pemustaka merasa enjoy dan ingin berkomunikasi dengan anda.


2. Style Feminim
Style feminim adalah tipe pakaian yang biasa digunakan oleh perempuan-perempuan feminim. Rata-rata perempuan feminim selalu ingin tampil cantik dan memikat. Nah, style ini juga bagus diterapkan di perpustakaan agar terlihat cantik dan mempesona. Heheh.. gaya pakaian ini bisa diterapkan dengan mengenakan rok panjang atau sepanjang lutut dengan dikombinasikan kemeja feminim. Tidak lupa juga anda bisa menggunakan anting agak panjang dan aksesoris kalung bagi yang tidak mengenakan jilbab.





3. Style Cool
Gaya tampilan cool adalah gaya pakaian yang bisa memberi kesan keren. Seseorang yang menggunakan gaya pakaian ini tidak hanya terkesan santai tetapi juga terlihat lebih berwibawa. Gaya pakaian satu ini juga sangat cocok bagi pustakawan untuk tampil kece dan fashionable. Gaya tampilan ini akan membuat pustakawan terlihat cantik dan disegani. Salah satu contoh tampilan keren dan cool yang bisa dipakai adalah menggunakan celana bahan, kemeja lengan panjang dimasukkan dan menggunakan aksesoris dasi. Pustakawan juga bisa memadukannya dengan menggunakan kacamata yang fashionable agar terlihat lebih kece.



Nah itu guys beberapa rekomendasi style pakaian bagi pustakawan perempuan ya.. tidak ada salahnya kalau pustakawan juga bisa tampil cantik, kece, dan fashionable asal tetap sopan dan sesuai dengan lingkungan. Memperhatikan gaya pakaian ini sangat penting untuk merubah image pustakawan yang selama ini masih terkesan negatif. Makanya, yuk tampil cantik sebagai pustakawan. Biar pemustakanya seneng dan tertarik datang ke perpustakaan. Hehehe

Oke guys..sampai sini dulu postingan Library Innovation kali ini ya. Semoga selalu memberian manfaat bagi semuanya. Amiin..
Tetap jaga semangat dan selalu kembangkan inovasi. Salam literasi dan inovasi!!!!
#KIMV #Libraryinnovation #Librarianfashionable

Wassalamu’alaikum 
Selasa, 20 Juni 2017 0 komentar

LIBRARY INNOVATION

Library Innovations #4
Inovasi Rak Buku untuk Perpustakaan Modern 


Assalamu’alaikum, Selamat pagi semuanya....
Apakabarnya hari ini? semoga selalu sehat dan lancar puasanya bagi yang menjalankan ya... aminn

Yap, ketemu lagi nih dengan postingan Library Innovations. Semoga selalu menginspirasi yaa.. hehehe. Postingan kali ini, Saya akan membahas tentang inovasi model rak buku atau shelving. Mungkin banyak yang merasa bahwa model rak buku di perpustakaan masih gitu-gitu saja, jadi terkesan membosankan. Padahal, jika kita lihat komponen yang paling banyak ada di ruang perpustakaan adalah rak buku, jadi kalau modelnya jadul gitu-gitu saja rasanya kurang menyenangkan.

Nah sekarang ini sudah banyak sekali model rak buku unik, cantik, dan menarik yang bisa diaplikasikan di perpustakaan. Bahkan, pustakawan juga bisa memesan dengan model apa yang diinginkan sendiri. Pemilihan rak buku yang baik juga sangat berpengaruh dengan model penyimpanan buku. Ditambah dengan model label rak buku yang bisa memudahkan pemustaka menemukan koleksi yang diinginkan.

Model-model label klasifikasi yang tidak hanya menuliskan nomor klasifikasi menurut saya sangat efektif, karena tidak semua pemustaka tahu dan paham tentang nomor klasifikasi. Jadi pustakawan bisa membuat label klasifikasi di rak dengan lebih inovatif, seperti dengan menyertakan subjek atau sub bidang agar mudah dibaca oleh pemustaka. Karena perlu diingat guys, kalau layanan di perpustakaan harus selalu mudah untuk pemustaka. Iya gak? Hehehe






 Nah guys, gambar di atas beberapa contoh model inovasi rak dan label klasifikasi pada rak. Kayaknya bakal bagus banget kalau mulai diterapkan di perpustakaan modern sekarang ini. Selain menjadikan ruang perpustakaan lebih menarik dan indah, pemustaka juga pasti tidak mudah bosan melihat desain perpustakaan. hehehe

Oke, cukup dulu postingan library innovations kali ini ya. Semoga bisa menginspirasi perpustakaan-perpustakaan di tempat kalian. Yuk, ciptakan suasana menyenangkan di perpustakaan, biar pemustaka senang dan nyaman. hehehe...sampai ketemu di postingan library innovations selanjutnya yaa..
#Salam literasi #Salam inovasi


#KIMV #Libraryinnovations #Libraryidea


Rabu, 14 Juni 2017 0 komentar

LIBRARY INNOVATION

LIBRARY INNOVATION #3

Inovasi Layanan Perpustakaan dengan Konsep Library of Things

Pinjamkan Alat-alat Jahit, Perpustakaan Umum Sacremento Kebanjiran Pengunjung

Hallo Guys...
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Selamat siang semuanya, gimana kabarnya nih? Puasa lancar kan? Hehhee
Oke guys, kali ini Saya akan share informasi tentang Inovasi Perpustakaan lagi ya. Untuk kali ini saya akan sedikit mengulas inovasi unik dan kece dari perpustakaan umum Sacremento. Nah, yang belum tau Sacremento itu mana, Sacremento itu ibu kota negera bagian di California, Amerika Serikat. Di perpustakaan umum (public library) Sacremento ini ternyata tidak hanya menyediakan koleksi buku, tetapi mereka juga menyediakan alat jahit untuk ibu-ibu rumah tangga yang membutuhkan. Gimana? Kece kan? Kalau sebelumnya saya telah posting layanan koleksi alat masak atau cakepans reference di Perpustakaan umum Kansas, sebenarnya tipe koleksi unik kali ini juga sama uniknya, yaitu perpustakaan tidak lagi hanya menyediakan koleksi buku tetapi sudah berkembang ke koleksi-koleksi lainnya.

Gagasan unik ini disampaikan oleh Maclachlan, Kepala Perpustakaan Sacremento karena sedikit kekhawatirannya dengan masa depan perpustakaan. Tentu saja karena perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, sehingga ia mengatakan bahwa pada suatu saat ini buku itu akan usang. Nah dari kekhawatirannya inilah, ia mulai berinovasi untuk tumbuh kembangnya dunia perpustakaan. hehehe..emm, it is cool man...

Tidak hanya itu, layanan koleksi alat jahit ini juga dimotori oleh banyaknya fenomena bahwa masih banyak masyarakat yang tinggal di perkotaanpun dalam kondisi mapan atau banyak uang. Jadi tidak semua masyarakat bisa membeli barang-barang yang diinginkan, apalagi kalau hanya untuk dipakai sesekali. Waw,,,it is so humanities guys. Kepala perpusnya go social banget nih kalau kayak gini...
Makanya, dari sinilah muncul konsep atau paradigma bahwa “Library of Things”. Perpustakaan itu bagian dari semuanya guys...kalau pengennya sih bisa pinjam apa saja di perpustakaan, alat masak, alat jahit, alat camera, alat tulis, alat bengkel, alat rumah tangga semuanya deh pokoknya. Heheh.. peace....




Jadi konsep Library of Things ini merupakan bagan dari dorongan yang secara terus menerus dilakukan oleh berbagai perpustakaan di seluruh negara untuk bisa memperluas dan mendiversikan peran perpustakaan di luar dari peminjaman buku. Kalau kata Maclachlan tadi, “Perpustakaan harus menjadi sumber yang lebih dari sekedar buku,” uh keren banget kalimatnya kan? Semenjak mulai diterapkan paradigma “Library of Things” ini juga bermunculan banyak ide brillian, bahkan banyak relawan yang mau mengisi kelas belajar masak dan menjahit di perpustakaan. Bayangkan guys.. perpustakaan tidak hanya dipenuhi orang baca buku, tapi banyak ibu-ibu rumah tangga yang datang ke sana, seru gak ya? Hehehe

So, kenapa perpustakaan kita tidak dibuat seperti itu saja? Perpustakaan tidak boleh membatasi lingkup kebutuhan pemustakanya kan? Manurut saya ini bisa jadi masukan bagus untuk perpustakaan umum di Indonesia, sehingga perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan informasi di segala aspek. Selain itu, perpustakaan juga semakin peduli dengan masyarakat dengan membantu mereke menyelesaikan permasalahan ekonomi mereka.  

Oke guys... sampai sini dulu ya share informasinya. Semoga bermanfaat dan bisa membuka ide-ide dan inovasi unik lainnya di perpustakaan. Kit lanjut di postingan Library Innovations selanjutnya yaa... salam literasi dan inovasi!

#KIMV #Libraryinnovations #Libraryideas #Superlibrarian #publiclibrary


Jumat, 02 Juni 2017 0 komentar

LIBRARY INNOVATIONS

Library Innovation #2

Bikin Perpustakaan Lebih Interaktif dengan Layanan Selfie

Selfie di Perpustakaan? Hayuuuuk.... ! hehehe
Hay gus, selamat malam semuanya. Semoga sehat selalu dan lancar puasanya bagi yang menjalankan yaa.. amiin.

Balik lagi nih di blog Arien guys. Setelah postingan sebelumnya tentang “Cake Pans Reference di Perpustakaan Umum Kansas” di  http://arinafaila.blogspot.co.id/2017/05/library-innovations.html, nah kali ini saya akan sharing tentang inovasi perpustakaan lagi yaitu layanan selfie di Perpustakaan.
Selfie? Siapa lagi yang gak tahu dengan selfie ya... dari yang kecil, muda, dan tua masih banyak yang suka selfie kan? Nah, sejak selfie menjadi fenomena nge-trend di seluruh dunia sekitar 2014 lalu, ternyata salah satu perpustakaan umum di California tepatnya di wilayah Escondido tidak mau ketinggalan dengan fenomena selfie ini. The public library of Escondido ini juga pinter banget memanfaatkan fenomena selfie untuk aktivitasnya di perpustakaan. Kira-kira apa ya idenya? Hehehe

Ternyata, perpustakaan umum ini memasang beberapa iPad di layanan koleksi yang bisa digunakan pengguna untuk ber-selfie, lalu foto hasil selfie ini akan dipakai untuk kartu perpustakaan. Layanan selfie ini dinamai sebagai layanan “Sign-up Selfie” sebagai salah satu tahap untuk mendapatkan kartu perpustakaan atau #GetCarded. So, kartu perpustakaan di sana sudah tidak lagi pakai foto kaku kayak foto KTP ya guys...

                                            http://techsoupforlibraries.org/blog/sign-up-selfies-how-patrons-getcarded-at-escondido-public-library

Tidak hanya itu, pemustaka juga bisa ber-selfie dengan membawa buku paling disukai dari perpustakaan di sana. Wow,,, it’s very nice guys. Nah, tidak sampai di sini, pustakawan di perpustakaan umum Escandido ini juga memberikan reward tiap minggunya bagi foto terbaik dengan di upload di sosial media milik perpustakaan di antaranya facebook dan instagram. Bayangkan saja, minggu pertama iPad selfie ini dipasang sudah ada 200 lebih foto yang masuk. Nah, betapa tingginya antusias dari pemustaka di sana menikmati layanan selfie itu.

Melihat layanan yang tidak kalah inovatif ini menunjukkan kalau perpustakaan harus lebih bisa membangun interaksi yang baik dengan pemustaka. Bagaimana tidak guys? Lihat saja kalau perpustakaan bisa memanfaatkan setiap momen-momen yang terjadi di sekitarnya, pasti pemustaka juga akan turut antusias memanfaatkannya. Karena sekali lagi, perpustakaan harus tetap up date yaa jangan sampai ‘Kudet’. Hehehe  Coz “Doing small things like this will help influence the public’s perception of the public library”.

Membangun image yang baik serta branding yang berkualitas tentunya penting bagi perpustakaan. Nah, menurut saya ide ini juga bisa diterapkan nih di perpustakaan kalian. Terutama untuk menjaring pemustaka kalangan muda kayaknya cocok banget nih.. Coba deh perpustakaannya dikasih layanan kayak gini, dan lihat saja hasil dan dampaknya yaa.. heheh selamat mencoba. Sebuah quotes dari saya “The Library is My Happy Place”. Jadi, buat perpustakaan kalian menjadi tempat yang menyenangkan ya guys.. sampai jumpa lagi di postingan The Libray Innovations selanjutnya ya. Salam Literasi dan Inovasi!

#KIMV #Libraryinnovations #Libraryinspirations


Kamis, 25 Mei 2017 2 komentar

LIBRARY INNOVATIONS

LIBRARY INNOVATION #1

Cake Pans Reference in Library
Pinjam Alat Masak di Perpustakaan? Why Not?

Selamat sore semuanya...
Apa kabar hari ini? Semoga selalu baik dan sehat ya...
Oke, setelah lama tidak posting apa-apa di blog sendiri, jadi kali ini Saya akan share informasi-informasi menarik tentang perpustakaan, khususnya tentang inovasi-inovasi menarik yang telah diaplikasikan di Perpustakaan internasional dan referensi inovasi yang bisa diterapkan di perpustakaan. Kali aja bisa jadi rekomendasi menarik buat perpustakaan di Indonesia, pengennya... Kenapa harus tentang perpustakaan gitu kan? Yah, coz im a Librarian ! hehehe..

Yap, kali ini Saya akan membahas layanan kece dari perpustakaan umum (public library) di Kansas, Amerika Serikat. Jadi, sejak tahun 2015 lalu The Public Library of Kansas ini telah memberikan layanan inovatifnya, yaitu dengan menyedikan koleksi “cake pans” yang diberi nama Cake Pans Reference.  Layanan ini langsung menjadi primadona dan menarik banyak perhatian kaum hawa terutama para ibu rumah tangga. Kece kan? Gimana gak kece, perpustakaan saja nyediain alat masak dan boleh dipinjam. Kalau di Supermarket pasti disuruh beli tuh. Kan enak bisa hemat, hehehe. Para pemustaka juga pada ketagihan karena tiap kali mau ngadain pesta kecil bisa pinjam di perpustakaan.


https://id.pinterest.com/pin/401313016770999704/

Kalau lihat Nice Idea ini jadi keingat 5 (lima) hukum Perpustakaan menurut Ranganathan yaitu “The Library is a growing organism”, bahwa perpustakaan itu merupakan sebuah organisme yang berkembang. Dan menurut saya, perpustakaan umum di Kansas ini sudah membuktikannya. Perpustakaan tidak lagi hanya menyimpan koleksi cetak maupun digital, namun telah mampu memfasilitasi segala kebutuhan pemustaka. Dan yang lebih membuat super wow dari layanan menarik ini adalah bahwa perpustakaan tidak lagi berorientasi pada fasilitas membaca, tetapi telah mampu memberikan creative space dan fasilitas non akademik bagi penggunanya. Hemm it is really cozy library guys....
Saya kira, layanan kayak gini pasti gak susah diaplikasikan di perpustakaan indonesia, khususnya di perpustakaan umum. Bayangin saja, kalau perpustakaan bisa memfasilitas hal-hal kecil seperti itu dan mungkin bisa saja hal-hal kecil lainnya, wow pastinya perpustakaan jadi rame. Hehehe

Yap, ini dulu yang bisa saya share-kan ya. Semoga bisa jadi inspirasi para pemerhati perpustakaa di Indonesia dan terlebih bagi para pustakawan. Sebuah quotes dari saya “The Library Doors are a Gateway to Anywhere”. Kita lanjut di postingan Library Innovation selanjutnya yaa.. Salam Literasi dan Inovasi!

#KIMV #Libraryinnovations #Libraryinspiration #Publiclibrary

 
;