Jumat, 18 April 2014

DESAIN RUANG PERPUSTAKAAN:setting ruang koleksi fiksi dan berkala perpusda jateng



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut Setiawan (1995), setting ruang diartikan sebagai rangkaian unsur-unsur fisik atau spasial yang mempunyai hubungan tertentu dan terkait sehingga dapat berfungsi sebagai tempat untuk suatu kegiatan tertentu. Perpustakaan merupakan suatu tempat yang berfungsi untuk menyimpan, mengumpulkan, memelihara, mengatur,  mengawetkan, dan menyajikan bahan-bahan pustaka bagi masyarakat yang membutuhkannya. Perpustakaan dalam proses perancangannya membutuhkan suatu konsep yang sesuai dengan fungsi dan sifat aktivitas pengunjung yang akan terjadi. Yaitu sebagai wadah yang dapat mengamankan bahan-bahan pustaka dari kerusakan akibat pengaruh dari luar dan kehilangan akibat pencurian, sekaligus juga dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi pengunjungnya.
Atas dasar inilah konsep dasar perancangan gedung perpustakaan cenderung tertutup dengan kontrol pintu masuk dan keluar yang ketat. Sedangkan ketertutupan ini selain menyulitkan untuk perencanaan system pencahayaan alami  yang sepenuhnya memanfaatnkan sinar matahari melalui jendela-jendela kaca, juga mengindentufikasi ketidaknyamanan secara visual bagi pengunjung yang berada di dalamnya, karena pandanganyang menghubungkan ruang dalam bangunan dengan ruang luar sekitar bangunan terhalang oleh bidang pembatas yang berupa dinding-dinding yang cukup tinggi.
Ruang koleksi merupakan representasi dari sebuah perpustakaan secara keseluruhan dimana disitu tersaji koleksi bahan-bahan pustaka dan lengkap dengan fasilitas bagi pengunjung yang berupa meja dan kursi duduk untuk aktivitas membaca dan menulis. Keberadaan jenis koleksi bahan pustaka yang disajikan dalam ruangan ini, akan menentukan karakteristik ruang tersebut, seperti siapa, apa, motivasi, dan dari kalangan apa yang banyak masuk ke dalam ruangan tersebut serta sifat dari aktivitas dalam ruang tersebut. 
Kualitas ruang yang baik dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Akan tetapi hal ini banyak dilupakan oleh para perancang, karena dianggap sebagai hal yang rumit dan pelik yang biasanya banyak melibatkan berbagai disiplin ilmu. Se;lain itu kenyamanan itu sendiri dinilai sebagai sesuatu yang sangat subyektif, dimana berbagai aspek turut berperan di dalamnya, seperti aspek pendidikan, budaya, pengalaman masa lalu dan lain sebagainya.
Ruang koleksi berkala dan fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah merupakan salah satu contoh setting ruang perpustakaan yang menyajikan koleksi bahan-bahan pustaka yang berisikan informasi ringan dan hiburan, seperti: Koran, majalah, jurnal, novel, dan buku-buku fiksi dan terbitan berkala lainnya. Sebagai tempat pelayanan umum, ruang koleksi perpustakaan perlu memiliki citra positif dengan memberikan pelayanan yang baik serta menciptakan ketenangan dan kenyamanan bagi penggunanya. Hal ini sangat penting dalam mengembang misinya, sebagai tempat menyimpan sekaligus menyajikan koleksi bahan-bahan pustaka secara professional guna meningkatkan minat baca bagi masyarakat di sekitarnya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, muncul pertanyaan sebagai rumusan masalah dalam penulisan ini. Adapun pertanyaan tersebut adalah:
a.       Bagaimanakah penampilan setting ruang koleksi fiksi dan berkala Perpustakaan Daerah Jawa Tengah?
b.      Bagaimanakah penampilan setting ruang koleksi berkala Perpustakaan Daerah Jawa Tengah?

C.    Tujuan Penelitian
Berawal dari permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
a.       Mengidentifikasi penampilan setting ruang koleksi fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
b.      Mengidentifikasi penampilan setting ruang koleksi berkala Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
c.       Mengidentifikasi ke dua ruang tersebut apakah sudah sesuai dengan standar ruang perpustakaan yang baik

BAB II
PROFIL PERPUSTAKAAN DAERAH JAWA TENGAH
A.    Sejarah dan Profil Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
Berdasarkan Surat Keputusan Mentri P & K Nomor : 18165/keb tanggal 23 Juli 1951 berdirilah Perpustakaan Negara Semarang, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1951. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan negara yang kedua di Indonesia setelah Perpustakaan Negara yang berada di Yogyakarta. Pada awal berdirinya perpustakaan, lokasi yang dipakai adalah bekas gedung Openbare Leeszaal Bibliothek di Bojong (Jl. Pemuda No. 147 Semarang) Seiring dengan meningkatnya peran perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar dan terkait dengan dunia pendidikan, pemerintah melalui Menteri P & K menerbitkan SK nomor : 01990/1978 tanggal 23 Juni 1978 tentang perubahan dari Perpustakaan Negara menjadi Perpustakaan Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian ditindaklanjuti dengan SK No.0950/0/1979 tanggal 29 Mei 1979 yang menetapkan Perpustakaan Wilayah Departemen Pendidikan Dan kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sebagai Perpustakaan Wilayah tipe A.
Sejalan dengan pembangunan nasional, perkembangan IPTEK dan semakin meningkatnya permintaan masyarakat Jawa Tengah, gedung di Jl. Pemuda 147 Semarang tidak dapat menampung semua kegiatan penyelenggaraan perpustakaan maka dibangunlah gedung perpustakaan baru yang lebih representatif di Jl. Sriwijaya No. 29A Semarang. Diresmikan penggunaanya pada tanggal 20 Maret 1987 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam.
Dengan adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah maka pada tanggal 21 Juni 2001 dikeluarkanlah Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2001 dimana Perpustakaan Nasional Provinsi Jawa Tengah diubah menjadi Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai kantor yang mempunyai tugas pokok membantu Gubernur dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah di bidang Perpustakaan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 6 Juni 2008 tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Susunan Organisasi Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah maka Kantor Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah digabung dengan Badan Arsip Daerah Provinsi Jawa Tengah menjadi Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Disamping itu berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 54 Tahun 2008 tanggal 20 Juni 2008 tentang Pembentukan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai Unit Pelayanan Teknis Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah. Adapun Pimpinan Perpustakaan dari Perpustakaan Negara sampai dengan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah yaitu:
1. Patah Tahun 1951
2. R. Rahmat Tahun 1951 s.d. 1972
3. Drs. Soeprapto Tahun 1972 s.d. 1977
4. R. Srikayadi Tahun 1977 s.d. 1986
5. Drs. Moedjono Tahun 1986 s.d. 1991
6. Drs. Supriyanto Tahun 1991 s.d. 1998
7. Drs.H.M. Wardi Setyabudi Tahun 1998 s.d. 18-03-2000
8. Goking Sukirno,SH Tanggal 10-03-2000 s.d. 13-08-2001
9. Dra. Dwi Hastuti Tanggal 13-08-2001 s.d. 23-12-2002
10. Ir. Santosa Rahajoe Tanggal 23-12-2002 s.d. 10-05-2004
11. Dra. Titik Rahajoe, M.Si Tanggal 10-05-2004 s.d. 13-06-2008
12. Sudjatmo,S.Sos Tanggal 30-06-2008 s.d. sekarang
Visi dan Misi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
1.Visi
Terwujudnya masyarakat membaca dan belajar menuju masyarakat madani yang sadar informasi
2. Misi
a. Menciptakan dan mengembangkan kebiasaan membaca masyarakat
b. Pemerataan memperoleh informasi bagi seluruh lapisan masyarakat
Jawa Tengah
c. Mengenbangkan kemitraan di bidang perpustakaan dokumentasi dan informasi
d. Mengembangkan jaringan informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan
e. Tersimpan dan tersebarluaskannya terbitan hasil karya masyarakat Jawa
Tengah dan tentang Jawa Tengah

Tugas Pokok dan Fungsi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
1.      Tugas Pokok
Tugas pokok Perpustakaan Daerah Jawa Tengah adalah membantu Gubernur dalam
penyelenggaraan Pemerintah Daerah dibidang perpustakaan
2. Fungsi Perpustakaan
a. Pelaksanaan perumusan kebijakan teknis di bidang perpustakaan
b. Pelaksanaan pelayanan penunjang dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah
di bidang perpustakaan
c. Pelaksanaan penyusunanan rencana dan program monitoring, evalusi dan pelaporan di bidang perpustakaan
d. Pelaksanaan perencanaan dan pengembangan bahan pustaka
e. Pelaksanaan penyelenggaraan layanan perpustakaan dan informasi
f. Pelaksanaan penyelenggaraan perawatan dan pelestarian bahan pustaka
g. Pelaksaaan pengumpulan, penyimpanan, pelestarian dan pendayagunaan karya cetak dan karya rekam
h. Pelaksanaan pengembangan perpustakaan
i. Pelaksanaan kerjasama dengan lembaga lain dalam bidang perpustakaan
j. Pelaksanaan fasilitas pengembangan minat baca masyarakat
k. Pelaksanaan fasilitas pembinaan jabatan fungsional pustakawan
l. Pelaksanaan pengelolaan urusan kepegawaian, keuangan, hukum, hubungan
masyarakat, organisasi dan tata laksana serta urusan umum (rumah tangga) dan
perlengkap





BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Perpustakaan
Kata perpustakaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata dasar “pustaka” yang berarti buku atau kitab. Kata ini mendapat imbuhan per dan an sehingga berarti tempat atau kumpulan bahan-bahan pustaka. Sedangkan bahan-bahan pustaka tersebut merupakan wadah inforrmasi yang berupa buku atau non buku. Bahan-bahan pustaka hasil rekaman informasi berupa suara atau gambar pada pita, film, dan yang lainnya.
Adapun fungsi perpustakaan adalah tempat mengumpulkan, memelihara, menyimpan, mengatur, an mengawetkan bahan-bahan pustakauntuk kemudian disajikan kepada pengunjung yang memrlukan. Dalam memberikan pelayanan kepada pengunjungnya, perpustakaan memberikan fasilitas berupa ruang-ruang koleksi yang berfungsi sebagai tempat menyimpan dan menyajikan bahan pustaka menurut jenis koleksi yang ada.
Aktivitas utama pengunjung ruang koleksi ini pada umumnya membaca, menulis, dan belajar. Sedangkan aktivitas lainnya adalah aktivitas per-layanan peminjaman atau pengembalian. Dalam keadaan tersebut. Menurut suptandar (1995) dalam keadaan tersebut orang tidak berharap untuk berhubungan dengan orang lain karena tidak saling kenal. Lebih lanjut menurutnya bahwa aktivitas membaca membutuhkan tempat yang sifatnya mengundang, dimana seorang akan duduk atau merebahkan diri dengan nyaman, serta memerlukan pencahayaan yang cukup baik secara alamiah atau buatan. Penempatan rak buku, majalah diletakkan di tempat yang mudah terjangkau.
Agar koleksi-koleksi yang ada tidak rusak atau hilang, maka ruang koleksi perpustakaan ini bersifat tertutup. Hal ini untuk mengantisipasi gangguan-gangguan dari luar, terutama pengaruh sinar matahari yang langsung mengenai koleksi-koleksi tersebut. Untuk menjaga keamanan koleksi, ruang-ruang ini biasanya hanya memiliki satu pintu untuk jalan masuk dan keluar dengan kontrol yang ketat. Hal ini didominasi oleh dinding-dinding yang massif.
Menurut Poole (1981), kelenturan yang berarti pada desain ruang koleksi di perpustakaan juga menuntut derajad dan kualitas pencahayaan yang merata di seluruh ruang. Hal ini dikarenakan perpustakaan merupakan tempat berbagai jenis kegiatan, mulai dari melihat yang mudah hingga yang sulit. Derajad dan kualitas pencahayaan harus cukup tinggi, sehingga memudahkan orang membaca tulisan.sistem pencahayaan harus mempunyai kekuatan (intensitas pencahayaan) 500 Lux, merata dan tidak boleh menimbulkan silau, baik langsung dari sumbernya maupun pantulan daripermukaan. Sedangkan menurut Mangunwijaya (1981), jenis pekerjaan membaca dalam ruang perpustakaan merupakan jenis pekerjaan halus yang menuntut konsentrasi yang terus menerus. Pekerjaan ini menurutnya mempunyai tuntutan derajad pencahayaan (intensitas cahaya) minimum 150 Lux.

B.      Setting Ruang dan Pengaruhnya
·         Bentuk
Bentuk dan ukuran rung tida dapat dipisahkan satu sama lain, karena ukuran merupakan salah satu cirri visual dari bentuk, di samping wujud, warna, tekstur, posisi, orientasi, dan inersia visualnya. Secara arsitektur, bentuk dan ukuran harus sesuai dengan fungi yang akan diwadahi. Bentuk ruang yang dimaksud adalah bentuk bidang laintai (dasar) atau denah bangunan, sedangkan ukuran ruang yang dimaksud adalah panjang dan lebarnya bidang lantai (denah) serta tinggi bidang vertical (bidang dinding) hingga ke bidang atas (plafon). Ukuran ruang yang terlalu besar dan tinggi akan menimbulkan kesan kecil dan tidak berdaya bagi seseorang yang berada di dalamnya. Begitu juga sebaliknya dengan ukuran yang terlalu kecil, akan menimbulkan kesan sempit, sesak dan tidak nyaman. Selain itu dominasi/ketinggian dinding terhadap panjang dan lebar denah, akan menyebabkan ruang terasa sempit. Begitu juga sebaliknya dominasi luas denah terhadap ketinggian dinding, akan menyebabkan rasa tertekan bagi penghuni ruangan tersebut.
Menurut Setiawan (1995), perabot sebagai variable bebas dari ruang, keberadaannya dapat mempengaruhi persepsi dan penilaian terhadap ukuran ruang, semakin banyak jumlah perabot, ruang semakin sempit. Semakin tidak teratur penataannya, suasana semakin tidak menyenangkan/tidak nyaman. Lebih lanjut menurutnya penataan perabot yang simetris tersesan kaku, teratur, disiplin dan formil (resmi). Sedangkan penataan perabot yang asimetris, lebih terkesan kurang teratur, dinamis, dan tidak formil (tidak resmi).
·         Warna
Dalam kontek arsitektur, warna menurut isaag dalam bukunya Approach to Architectural Design (Hakim, 1987) digunakan untuk menekankan atau memperjelas karakter suatu obyek, memberikan aksen (penekanan) pada bentuk dan bahannya. Sedangkan warna ruang yang dimaksud disini adalah komposisi warna-warna dari bidang-bidang pembatas ruangan seperti dinding-dinding dan plafon (langit-langit) yang terlihat oleh mata dan secara psikologis mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suasana/kualitas ruang.
Sebagaimana suatu ruangan yang mempunyai dmensi panjang, lebar, dan tinggi, warna mempunyai nada, nilai, dan intensitas. Nada warna adalah macam warna yang langsung terkesan atau tertangkap oleh indera mata, seperti warna hijau daun, merah tomat dan lain sebagainya. Nada warna ini dalam bahasa inggris disebut hue. Nilai warna adalah mengenai gelap terangnya warna, atau value, ukuran ini seperti gradasi antara hitam dan putih, yaitu dengan menambah warna putih nilai warna semakin tinggi atau terang. Sebaliknya dengan menambah warna hitam, nilai warna semakin rendah atau gelap. Sedangkan intensitas warna adalah kekuatan atau kelemahan warna, yaitu menyala dan redupnya warna. Intensitas warna ini biasanya diukur dai mudah tidaknya tertangkap oleh mata, baik dari warna kelabu yang suram sampai warna yang paling menyala jelas.
·         Pencahayaan Ruang
Pencahayaan merupakan persyaratan untuk berlangsungnya aktivitas penginderaan visual manusia terhadap obyek-obyek di sekitarnya. Tanpa adanya cahaya manusia tidak dapat melihat apa-apa. Namun sebaliknya dalam terang pencahayaan yang berlebihan akan menyebabkan mata tidak tahan akan kesilauannya. Pencahayaan difungsikan untuk memenuhi kebutuhan ruang akan cahaya dan untuk segi-segi estetika. Di sini pencahayaan disesuaikan dengan fungsi dan aktivitas yang akan berlangsung dalam ruang tersebut. Ruang yang kurang mendapat pencahayaan akan menjadi gelap dan dingin, begitu juga sebaliknya, pencahayaan yang berlebihan akan menyebabkan silau dan kurang baik bagi mata.
Menurut Oiswang (1985), bahwa perilaku cahaya banyak ditentukan oleh sifat-sifat permukaan yang dijumpai, apakah sinar akan dipantulkan, diserap atau disebarkan. Cahaya yang jatuh di permukaan benda-benda yang ada atau bidang-bidang pembatas ruang ada kemungkinan diserap, dipantulkan, atau disebarkan. Persepsi warna pada manusia ditentukan oleh pemantulan, absorbs dan penyebaran yang selektif. Selain itu juga cahaya dapat difokuskan, dibelokkan, dan disebarkan. Ini semua tergantung karakteristik permukaan. Ada beberapa system pencahayaan, yaitu:
1.      Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami adalah suatu system pencahayaan ruang yang memanfaatkan sinar matahari pada siang hari, baik secara langsung melalui atap/vide, jendela-jendela, genting kaca dan lain sebagainya. Atau secara tidak langsung melalui pantulan cahaya matahari oleh awan-awan serta benda-benda di sekeliling bangunan, melalui skylight atau permainan bidang-bidang kaca dan lain sebagainya. Menurut Suptandar (1999), bahwa terang cahaya matahari akan senantiasa berubah oleh karena kedudukan matahari yang terus bergeser dari posisi semula ataupun oleh factor-faktor lain. Kelemahan system ini adalah apabila udara berkabut atau cuaca mendung, dimana terang cahaya alam dalam ruang akan mendadak berkurang intensitasnya.
2.      Pencahayaan Buatan
Pencahayaan buatan adalah pencahayaan dalam ruangan yang sumber cahayanya berasal dari lampu-lampu buatan manusia yang dipasang pada dinding dan plafon. Pencahayaan buatan ini berfungsi sebagai pendukung dalam memberikan pencahayaan untuk kegiatan pada malam hari serta untuk menciptakan suasana khusus bagi desain ruangan atau obyek-obyek tertentu. Pencahayaan buatan sifatnya lebih dinamis disbanding pencahayaan alami, karena letak, jenis, warna, dan intensitas dari sumber cahaya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan/keinginan siperancang/pengguna ruang tersebut. Secara psikologis, dengan kondisi seperti tersebut di atas, pencahayaan buatan lebih berpotensi untuk mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kualitas pencahayaan dan suasana terbentuk di dalam ruangan tersebut.



















BAB IV
PEMBAHASAN
A.    Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini merupakan perpustakaan nasional yang dikelola oleh pihak pemerintah daerah jawa tengah. Perpustakaan ini menempati sebuah gedung yang berlokasi di kawasan yang cukup strategis yaitu di jalan sri wijaya No.29 A Semarang. Kota semarang ini secara geografis berada di kawasan garis balik isotern lintang-selatan dengan posisi azimuth terletak tepat pada 60 lintang-selatan. Kawasan ini berada di daerah tropis lembab. Secara teori sepanjang tahun daerah ini dipengaruhi oleh faktor-faktor alam seperti sinar matahari, hembusan angin dan curah hujan. Potensi keberadaan sinar matahari sepanjang tahun ini memungkinkan perencanaan system pencahayaan alami untuk bangunan-bangunan yang berada di kawasan ini, termasuk gedung Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini. a empat persegi panjang dengan dinding-dinding pembatas berupa bidang-bidang datar. Orientasi bangunan ini adalah menghadap kea rah Utara atau sisi memanjang bangunan berorientasi arah Utara-Selatan. Sedangkan sisi pendek bangunan berorientasi kea rah Timur-Barat.
Desain system pencahayaan alami yang diterapkan dalam perencanaan gedung Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini menggunakan bidang-bidang bukaan di sepanjang sisi/dinding luar bangunan yang berupa jendela-jendela kaca raybna warna abu-abu dengan ketebalan 5 mm. untuk mengoptimalkan system pencahayaan alami dengan gedung ini digunakan warna-warna terang pada dinding-dinding ruang dalam dengan harapan dapat memantulkan cahaya secara efektif. Selain system pencahayaan alami, juga digunakan system penerangan buatan pada setiap ruangnya dengan memakai lampu-lampu TL (Fluorescent) 2x60 watt pada setiap titiknya.
Layanan jasa Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini berlangsung setiap hari senin hingga hari kamis mulai jam 07.30 sampai 16.30. sedangkan untuk hari jumat mulai jam 08.00 hingga jam 14.00 WIB. Sedangkan hari sabtu dan minggu mulai jam 07.30 sampai jam 15.00 WIB.


B.     Ruang Koleksi Berkala dan Fiksi
Ruang koleksi berkala dan fiksi ini merupakan salah satu ruang koleksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah yang berada diujung sebelah timur lantai II. Ruang ini berfungsi sebagai tempat menyimpan dan menyajikan koleksi bahan-bahan pustaka yang berupa bacaan terbitan berkala seperti Koran, majalah, jurnal, dan lain-lainnya serta buku-buku fiksi, seperti novel dan lain sebagainya. Koleksi bahan pustaka ini termasuk jenis koleksi yang isinya berupa informasi ringan dan hiburan. Sebagian besar pengunjung yang masuk ke ruang koleksi berkla dan fiksi ini adalah untuk bersantai sambil membaca koleksi yang tersedia untuk mengisi waktu senggang atau jam-jam istirahat kantor.
·         Bentuk Ruang
Ruang koleksi berkala dan fiksi ini berbentuk empat segi panjang dengan ukuran panjang 18,00 meter, lebar 9,00 meter dan tinggi plafon lantai adalah 5,00 meter. Ruangan ini mempunyai perbandingan antara dimensi panjang dengan lebarnya adalah 2 : 1. Proporsi bentuk denah dengan perbandingan seperti ini, menurut teori proporsi bentuk denahnya Andre Palladio (DK Ching, 1995) termasuk dalam kategori 7 buah bentuk denah dengan proporsi yang ideal dan indah.  Dimensi panjang dan lebar denah ini menciptakan jarak pandang yang memungkinkan pandangan pengunjung untuk menjangkau seluruh sudut ruangan baik secara normal maupun detail. Ini berarti satu sudut ruang ke sudut ruang yang lain seseorang dapat saling melihat dan mengenali satu sama lain. Hal ini sesuai dengan klasifikasi jarak pandang untuk mengenali seseorang (maksimum 24,5 meter). Dengan jarak seperti ini, maka kesan keakraban dalam ruangan lebih terasa oleh pengunjung.
Pada dinding pembatas ruang koleksi berkala dan fiksi ini terdapat jendela kaca sebagai pembukaan untuk pencahayaan alami. Jendela kaca ini tingginya 2 meter di atas lantai dengan dengan panjang 2 meter. Ketinggian dinding/jendela ini menghalangi pandangan pengunjung dari dalam ke luar bangunan. Karena jendela kaca memang diletakkan di bagian atas dan rak koleksi diletakkan di pinggir-pinggir tembok yang memang tidak ada jendela kacanya. Jadi koleksi tidak mendapatkan sinar matahari.
Gambar 1. Bentuk ruang koleksi fiksi dan berkala
·         Perabot dan Penataannya
Perabot pengisi ruang koleksi berkala dan fiksi ini terbuat dari bahan kayu jati dengan finishing politer (pernis), kecuali tempat Koran yang terbuat dari aluminium. Adapun rincian jenis dan jumlah perabot adalah sebagai berikut:
§  Meja baca/tulis besar (120x90x75)     = 11 unit
§  Meja baca/tulis kecil (80x60x75)        = 11 unit
§  Kursi duduk (55x45x45)                    = 38 unit
§  Rak koleksi )50x200x200)                  = 7 unit
§  Tempat Koran (100x45x90)                = 1 unit
§  Rak catalog (100x45x100)                  = 1 unit
§  Meja pelayanan (300x60x90)              = 1 unit
§  Meja buku tamu (60x60x100)             = 1 unit
Kondisi perabot yang ada dalam keadaan baik, tidak ada tanda-tanda satu perabot satu pun yang mengalami kerusakan konstruksi maupun finishingnya yang dapat merusak pemandangan, begitu juga dengan desain perabot cukup baik dan memadai. Akan tetapi dari segi penataan masih belum tertaur dengan rapi. Keberadaan perabot dan penataannya di ruang koleksi fiksi dan berkala dari segi jumlahnya tidak menyebabkan ruang menjadi sempit. Hal ini berdasarkan perhitungan luas lantai yang tertutup oleh perabot hanya 45% dari luas lantai keseluruhan. Ini berarti sisa luas lantai untuk sirkulasi masih cukup baik dan tidak terjadi kerusakan baik konstruksi, bahan maupun finishingnya. Berdasarkan koleksi ini termasuk dalam kategori tipe penataan perabot ruang koleksi ini termasuk dalam kategori tipe penataan yang asimetris atau menyebar. Tipe penataan ini terkesan bahwa perabot yang ada tidak teratur dengan rapid an sirkulasi ruang tidak jelas. Selain kurang teratur/tidak rapi, penataan perabot disini tidak efektif, karena ada meja/kursi baca serta rak koleksi yang menempel ke dinding dan masih banyak ruang-ruang kosong yang belum termanfaatkan. Perabot-perabot yang menempel di dinding ini akan sangat terganggu oleh pembayangan akibat efek pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan ini sehingga sedikit agak gelap. Jadi bisa dikatakan bahwa dari segi penataannya, keberadaan perabot di dalam ruang koleksi fiksi dan berkala membentuk kesan visual yang negative walaupun dari segi jumlah dan kondisinya cukup baik.
Gambar 2. Beberapa perabot ruang koleksi berkala dan fiksi
·         Warna Ruang
Yang dimaksud dengan warna ruang disini adalah warna-warna permukaan bidang-bidang pembatas ruang tersebut, yaitu warna bahan lantai, warna cat dinding dan warna cat plafon (langit-langit). Ruang koleksi berkala dan fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah dominan berwarna hijau muda dan putih. Lebih jelasnya adalah warna dindingnya yang hijau dan warna lantai serta plafon yang putih. Warna hijau ini memberikan makna elegan, menyembuhkan, meninbulkan rasa empati terhadap orang lain. Nuansa hijau ini dapat meredam stress, member rasa aman dan perlindungan. Namun warna hijau ini juga menimbulkan perasaan terperangkap. Sedangkan warna putih memberikan arti perdamaian, spiritualitas, kesucian, kesederhanaan, kesempurnaan, kebersihan, keamanan, dan persatuan. Pilihan warna ini sudah cocok untuk ruang koleksi berkala dan fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah yang memang dibuat sebagai ruang yang tidak terlalu ramai, butuh ketenangan, dan keamanan. Karena koleksi-koleksinya yang sangat cocok untuk bersantai.
Gambar 3. Warna dinding ruang yang member kesan sejuk dan nyaman
·         Pencahayaan Ruang
Pencahayaan di dalam ruang koleksi berkala dan fiksi ini selain memanfaatkan secara optimal dari pencahayaan alami yang masuk melalui bidang-bidang bukaan yang beruoa jendela kaca, juga menggunakan pencahayaan buatan yang berupa lampu TL )Fluorescent) 2x60 watt sebanyak 8 titik yang terletak pada plafon. Pencahayaan dalam ruang koleksi berkala dan fiksi ini lebih banyak memanfaatkan pencahayaan alami yang masuk melalui lubang-lubang pembukaan yang berupa jendela kaca yang berada pada tiga sisi dinding luar pembatas ruang. Pemanfaatan pencahayaan alami ini menyebabkan terjadinya efek pencahayaan serta silau akibat pantulan-pantulan sinar pada permukaan yang rat/halus dan mengkilat. Yang pada akhirnya menyebabkan pencahayaan tidak merata keseluruh sudut ruang. Sedangkan pencahayaan buatan baru digunakan apabila cuaca mendung dan kecerahan matahari di bawah normal. Pencahayaan ini hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan cahaya dalam ruang, sedangkan pemanfaatannya untuk segi-segi estetika tidak ada sama sekali.
Berdasarkan uraian di atas tersirat bahwa pada kondisi matahari cerah, ruang menjadi terlalu terang, timbul silau dan ruang terasa lebih sempit dan berkesan panas. Sedangkan dalam kondisi langit mendung, intensitas pencahayaan dalam ruang koleksi ini menurun secara drastic hingga menjadi agak gelap. Begitu pula pemanfaatan pencahayaan buatan untuk segi-segi estetika tidak ada sama sekali. Ini berarti penampilan pencahayaan ruang koleksi berkala dan fiksi ini mengindikasikan kesan negatif.
Gambar 4. Pencahayaan buatan (alami) dan buatan ruang koleksi berkala dan fiksi











Gambar setting ruang koleksi fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah
A
B
C
C
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
E
E
E
D
 















Keterangan :
            A : pintu masuk dan keluar
            B : meja absensi
            C : meja petugas
            D : rak koleksi
            E : meja baca kelompok
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Setting ruang koleksi berkala dan fiksi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini mempunyai proporsi denah yang ideal serta ruang intim atau akrab. Tidak adanya hiasan-hiasan pada dinding yang menghalangi pandangan keluar, sehingga kebutuhan pengunjung akan adanya pandangan yang mengalir/ menyenangkan tidak terpenuhi terutama di saat-saat mata jenuh melakukan aktivitas membaca. Penataan perabot yang terpencar, berkesan tidak teratur dan tidak efisien karena masih banyak ruang-ruang yang kosong, belum diisi dengan perabot serta sirkulasi pengunjung tidak jelas. Ini berarti kebutuhan pengunjung akan kerapian, keteraturan serta ketertibn belum terpenuhi. Warna tunggal pada dinding pembatas ruang menimbulkan kesan monoton dan membosankan, karena tidak tercipta komposisi warna ruang yang menarik. Pencahayaan alami walaupun terlalu terang, tapi sudah memnuhi kebutuhan akan cahaya dalam melakukan aktivitasnya, walaupun banyak terjadi gangguan, seperti pembayangan akibat efek pencahayaan alami dalam ruang, silau akibat pantulan dari lantai yang mengkilat.sedangkan pencahayaan buatan untuk efek-efek khusus serta untuk pembentukan karakter suasana ruang tertentu tidak ada sama sekali. Ini mengindikasikan bahwa kebutuhan pengunjung akan karakter suasana yang sejuk dan khusus untuk bersantai tidak terpenuhi.

B.     Saran
Ada beberapa saran untuk ruang koleksi berkala dan fiksi, yaitu:
*      Mengeliminir dominasi unsur dinding yang menghalangi pandangan mata keluar ruangan dengan memasang hiasan-hiasan dinding yang sesuai dengan aktivitas ruang tersebut.
*      Merancang penataan perabot yang efektif dan efisien serta sirkulasi ruang yang jelas. Sehingga berkesan teratur dengan rapi.
*      Mengurangi dominasi pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan dengan meningkatkan pemanfaatan system pencahayaan buatan agar pencahayaan bisa dikontrol dan direkayasa untuk kebutuhan-kebutuhan estetika dan kebutuhan khusus lainnya.
*      Menambah jumlah meja studi carel yang bernetuk miring kira-kira 450 agar jarak pandang antara mata dan buku bisa sesuai


















DAFTAR PUSTAKA

Ching, DK . 1995. ARSITEKTUR: BENTUK, RUANG DAN SUSUNANNYA. ERLANGGA: JAKARTA
Poole, FG. 1981. DASAR PERENCANAAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA. ITB: Bandung.
Suptandar , JP. 1999. DESAIN INTERIOR. Djambalan: Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar

 
;