Jumat, 18 April 2014

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN: perpustakaan POLINES semarang



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian perpustakaan mengalami perkembangan. Menurut Sulistya-Basuki (1991:3) perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Sesuai dengan perkembangan akhir-akhir ini, perpustakaan perlu dipahami bukan sekedar sebagai lembaga yang mengelola buku dan terbitan lainnya, tetapi juga mengelola sumber informasi  dengan memanfaatkan teknologi informasi. Oleh karena itu, menurut Lasa Hs (1998) menyatakan bahwa perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyajian serta penyebaran informasi. Perpustakaan sendiri dibagi menjadi dua macam yaitu perpustakaan umum dan perpustakaan khusus. Dalam penulisan laporan observasi ini, penulis akan membahas tentang perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT).
Perpustakaan Perguruan Tinggi (PPT) merupakan unit pelaksana teknis (UPT) yang bersama-sama dengan unit lain melaksanakan Tri Dharma PT (Perguruan Tinggi) melalui menghimpun, memilih, mengolah, merawat serta melayankan sumber informasi kepada lembaga induk khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya.Undang-undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 55 menyebutkan bahwa salah satu syarat untuk menyelenggarakan Perguruan Tinggi harus memiliki Perpustakaan.PPT sering diibaratkan sebagai jantungnya Perguruan Tinggi (the heart of university), maka keberadaannya harus ada agar dapat memberikan layanan kepada sivitas akademika sesuai dengan kebutuhan. Dalam rangka melaksanakan pengelolaan perpustakaan diperlukan pedoman sebagai panduan dan karena itu diperlukan pengetahuan tentang Standar Nasional Indonesia Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNI 7330.2009) dalam upaya pencapaian pengelolaan PPT yang baku.
Perpustakaan Perguruan Tinggi, diselenggarakan dengan tujuan untuk menunjang pelaksanaan program PT sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan tugas perpustakaan perguruan tinggi adalah menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah, dan merawat pustaka serta mendayagunakannya baik bagi civitas academica maupun masyarakat luar kampus.
Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan dan informasi akan memiliki kinerja yang baik apabila ditunjang dengan manajemen yang memadai. Dengan adanya manajemen, seluruh aktivitas lembaga akan mengarah pada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga seluruh elemen dalam suatu lembaga tersebut akan berusaha untuk memfungsikan diri sesuai dengan ketentuan lembaga/perpustakaan. Pendapat dari James F. Stoner (1982) yang dikutip oleh Handoko (1993:8), menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan para anggota dan sumber daya lainnyauntuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, apabila dalam sistem manajemen itu kurang baik, maka proses manajemen perpustakaan secara keseluruhan juga kurang baik. Sedangkan menurut O.R. Terry, yang dikutip oleh Hadi (1990:2), manajemen adalah usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan keahlian orang lain. Dalam hal ini berarti peran dari seoarang pemimpin sangat diperlukan. Seorang pimpinan diharapkan bisa mengatur dan memimpin bawahannya dengan baik. Oleh karean itu dalam melakukan manajemen perpustakaan, manajemen kepemimpinan juga sangat diperlukan. Karena kaitannya dalam pembagian tugas yang harus benar-benar disesuaikan dengan keahlian dan agar tidak terjadi tumpah tindih tugas oleh sumber daya manusianya.
B. Perumusan Masalah
Laporan ini memiliki perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem manajemen yang diterapkan oleh Perpustakaan Polines semarang?
2. Apakah manajemen yang diterapkan sudah sesuai dengan teori yang ada ?
Penulisan laporan ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1.      Mengetahui manajemen perpustakaan
2.      Mengetahui sistem manajemen perpustakaan yang baik dari para ahli
3.      Mengetahui sistem manajemen yang diterapkan di perpustakaan Polines Semarang
4.      Menganalis tentang manajemen yang sudah diterapkan oleh perpustakaan Polines semarang































BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Perpustakaan
Maju mundurnya suatu lembaga sangat dipengaruhi oleh sistem manajemen yang diberlakukan, terutama faktor manajer puncak. Pengangkatan jabatan kepala perpustakaan kadang tidak didasarkan pada pertimbangan kemampuan manajerial. Hal ini tidak hanya terjadi di perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, dan perpustakaan instansi, tetapi juga terjadi diperpustakaan perguruan tinggi. Akibatnya pelaksanaan tugas-tugas manajerial tidak berdasarkan visi, misi, dan tujuan yang jelas karena memang mereka itu tidak memahaminya. Oleh karena itu pengangkatan manajer seharusnyadidasarkan kesesuaian orang dengan peran (the right man on the right job)  dan pemahaman kultur lembaga.
Perpustakaan sebagai lembaga informasi dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat tidak menitikberatkan pada pencarian keuntungan materi. Dalam mencapai tujuan, perpustakaan sama dengan organisasi lain yang berorientasi pada keuntungan, antara lain dengan menerapkan filosofi dan prinsip-prinsip promosi. Dalam memberikan pelayanan itu pada hakekatnya perpustakaan memberikan produk yang berupa jasa. Oleh sebab itu, perpustakaan dapat dikatakan sebagai lembaga yang membantu orang yang datang untuk memanfaatkan jasanya (Wisdom, 1974). Berdasarkan pengertian di atas dapatdikatakan bahwa perpustakaan bukan sebagai lembagapencari laba/keuntungan, akan tetapi lembaga yang lebih mengutamakan pelayanan.
B. Perencanaan
            Perencanaan merupakan titik awal berbagai aktivitas organisasi yang sangat menentukan keberhasilanorganisasi. Perencanaan harus dilakukan oleh perpustakaan untuk memberikan arah, menjadi standar kerja, memberikan kerangka pemersatu, dan membantu utnuk memperkirakan peluang-peluang (Swastha, 1990:34). Dengan perencanaan yang baik, makaseluruh aktivitas organisasi dapat diarahkan menuju titik tujuan yang jelas. Perpustakaan sebagai organisasi sekaligus lembaga, dalam pelaksanaan kegiatannya memerlukan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian.
            Perpustakaan sebagai lembaga yang selaluberkembang (library is the growing organism) memerlukan perencanaan dalam pengelolaan, meliputi bahan informasi, sumber daya manusia, dana, gedung, sistem, dan perlengkapan. Tanpa adanya perencanaan yang memadai maka tidak jelas tujuan yag akan dicapai, tumpang tindihnya pelaksanaan, dan lambannya perkembangan perpustakaan. sumber daya manusia merupakan unsur pendukung utama dalam kegiatan organisasi/lembaga. Maju mundurnya perpustakaan tergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Kebutuhan sumber daya manusia untuk perpustakaan perlu direncanakan denga mempertimbangkan: jenis kegiatan, kualitas dan kuantitas tenaga kerja, spesialisasi, pemanfaatan teknologi informasi, dana, dan tingkat pendidikan pemakai, oleh karena itu, kebutuhan tenaga untuk jenis perpustakaan berbeda dengan kebutuhan tenaga untuk jenis perpustakaan yang lain.
            Mengingat begitu pentingnya perencanaan bagi suatu perpustakaan, dalam penyusunannya diperlukan pengetahuan dan pengalaman luas (sulistya-basuki, 1993:192). Pentingnya perencanaan bagi suatu perpustakaan disebabkan karena hal-hal berikut ini:
1. perencanaan merupakan dasar pelaksanaan aktivitas
2. perencanaan merupakan alat pengawasan
3. perencanaan yang proporsional akan membawa efektivitas dan efisiensi
Perencanaan yang merupakan titik awal kegiatan akan menentukan sasaran yang akan dicapai, tindakan yang akan dilakukan, bentuk organisasi yang tepat, dan orang-orang yang bertanggung jawab atas suatu kegiatan. Perencanaan yang matang berfungsi untuk:
1. membantu tercapainya tujuan
            Pada umumnya orang cenderung gamang dan ragu-ragu terhadap masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Dengan perencanaan yang disusun berdasarkan alasan-alasan yang kuat dan pemikiran yang mendalam, keragu-raguan itu dapat dibatasi atau bahkan dihilangkan. 
2. tercapainya efektivitas dan efisisensi
            Efektivitas menunjukkan kemampuan seseorang dalam merumuskan tujuan dan alat yang tepat untuk mencapai tutjuan . Peter Drucker (dalam Handoko, 1993:7) menyatakan bahwa efektivitas adalah melakukan pekerjaan secara benar. Adapun efisiensi adalah kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan benar. Ini dapatdiartikan bahwa hasi, produktivitas, dan kinerja yang diperoleh lebih banyak daripada peneluaran biaya, teaga, pikiran, dan mesin yang digunakan.
            Ada beberapa tahapan dalam perencanaan, yaitu:
1. Penetapan Visi, Misi, dan Tujuan
            Visi merupakan penetapan tujuan jangka panjang suatu organisasi/lembaga yang bersifat abstrak, mudah dipahami, memiliki keunggulan dari yang lain, terbayangkan, dan disusun oleh pimpinan bersama anggota lembaga. Adapun misi merupakan penjabaran visi dengan rumusan-rumusan kegiatan yang akan dilakukan dan hasinya dapat diukur, dilihat, dirasakan, maupundibuktikan karena bersifat kasat mata (tangisble), sedangkan tujuan adalah sasaran yang akan dicapai suatu perpustakaan dalam jangka pendek dan hasilnya dapat dirasakan.
2. Perumusan Keadaan Sekarang
            Keadaan perpustakaan sekarang perlu dipahami, baik kekurangannya maupun kelebihannya. Hal itu penting untuk menetapkan langkah-langkah yang akan dilakukan. Pada tahap ini diperlukan informasi dan data statistik yang akurat yang diperoleh dengan komunikasi yang baik di perpustakaan.
3. Pengembangan Perencanaan
            Dalam pelaksanaan kegiatan perpustakaan terdapat pengembangan prosedur, alat, dana, maupun tenaga karena berbagai faktor. Oleh karena itu, kemungkinan-kemungkinan seperti ini perlu diidentifikasi sebaik-baiknya agardalam pengembanagan perencanaan tidak terjadi pemborosan dana dan tenaga atau terjadinya penyelewengan atas perencanaan semula. Agar dalam pengembangan perpusatakaan dapat dicapai tutjuan yang baik, perencanaan perlu mempertimbangkan sumber daya manusia, adapun kegiatannya adalah:
a. pengadaan tenaga kerja
            peningkatan sumber daya manusia perlu mendapat perhatian utama karena sumber daya ini merupakan sumber bergerak, sedangkan sumber daya lain merupakan benda mati. Oleh karena itu, sumber daya manusia ini dapat dikembangkan kemampuannya, yang hasilnya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kinerja perpustakaan.
b. kualitas tenaga kerja
            rendahnya pendidikan pustakawan ini akan mempengaruhi motivasi dan produktivitas kerja mereka. Ali (2001:13) dalam penelitiannya menemukan data bahwa terdapat 83,33% pemakai perpustakaan tidak puas dan hanya 16,67% pemakai perpustakaan yang merasa puas atas pelayanan pustakawan. Sumber daya manusia yang ideal yang dibutuhkan oleh perpustakaan adalah sumber daya manusia yang benar-benar memiliki greget dalam menjalankan profesinya. Dalam hal ini tidak bisa lepas dari karakter dan latar belakang pendidikan pustakawan itu sendiri (Astanto, 2002:10).
c. pemanfaatan teknologi informasi
            penggunaan teknologi informasi di perpustakaan memengaruhi kebutuhan tenaga. Pekerjaan yang tadinya dikerjakan secara manual dan memerlukan banyak tenaga, menjadi cukup dikrjakan oleh beberapa orang saja. Selain itu, pemanfaatan komputer untuk melaksanakan tugas-tugas perpusakaan, maka tenaga lain dapat dapat dialokasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lain, seperti penyusunan abstrak, indeks, bibliografi, resensi, tinjauan pustaka, dan lainnya.  Dengan efisiensi ini maka perpustakaan dapat memikirkan dan mengalokasikan stafnya dalam menyelenggarkan layanan-layanan lain (Saleh, 2002:4).
d. Dana
            penambahan tenaga baru berarti harus menambah anggaran rutin. Untuk itu perludikajilebih cermat ketersediaan anggaran itu. Hal itu disebabkan dengan penambahan seorang pegawai misalnya, tidak saja harus tersedia gaji tiap bulannya, akan tetapi juga harus diperhitungkan tunjangan-tunjangan lain, seperti tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, jaminan kesehatan, transportasi, dan lainnya (Siagian, 1994:65).
e. tingkat pendidikan pemakai
            dalam perencanaan rekruitmen sumber daya manusia perpustakaan, perlu dipertimbangkan tingkat pendidikan pemakai perpustakaan. semakin tinggi tingkat pendidikan pemakai, maka diperluka sumber daya manusia yang memiliki latar belakang pendidikan perpustakaan yang memadai. Misalnya, untuk pemakai perpustakaan di perhuruan tinggi yang terdiri atas mahasiswa (S1, S2, S3) dan dosen yang pendidikannya antara S2 dan S3,  diperlukan pustakawan yang memiliki pendidikan yang variatif  mulai dari Diploma sampai S2 perpustakaan dismaping itu sebisa mungkin perpustakaan di perguruan tinggi negeri maupun swasta hendaknya dikepalai oleh orang yang memiliki pendidikan minimal S1 perpustakaan atau bidang lain diploma perpustakaan, serta menguasai manajemen perpustakaan. untuk perpustakaan sekolah dasar sampai menengah, kiranya cukup lulusan diploma perpustakaan atau lulusan SLTA ditambah pendidikan perpustakaan minimal enam bulan.
f. penempatan
            penempatan pegawai baru harus benar-benar disesuaikan dengan penidikan, keahlian, tugas dan kemampuan pegawai menurut kebutuhan seperti yang direncanakan. Penempatan tenaga yang salah akan berakibat manajemen kurang efektif dan kurang efisien. Penepatan sebenarnya tidak hanya pada pegawai baru, tetapi juga berlaku pada pegawai lama yang mengalami alih tugas dan mutasi (Siagian, 1994:169). Dalam ha ini termasuk promosi, alih tugas, dan dinamisasi.
C. Pengorganisasian
kata organisasi berasal dari organon (B. Yunani) atau organum (B. Latin), berarti alat, bagian, anggota atau badan. pengertian organisasi telah banyak didefinisikan oleh banyak orang, atara lain Padmo Wahyono dalam Ensiklopedi nasional Indonesia vol. 11 (1990:303) menyatakan bahwa organisasi sebagai suatu kerja sama berdasarkan suatu pembagian kerja yang tetap.
Dari sini dapat dipahami bahwa dalam orgnisasi terdapat 3 (tiga) komponen yang harus ada agar perjalanan organisasi lebih baik, yakni : kelompok orang, kerja sama yang harmonis, dan pembagian hak, kewajiban, dan tanggung jawab. oleh karena itu, dalam perjalanannya, perpustakaan sebagai organisasi perlu pengorganisasian.
prinsip-prinsip organisasi
suatu organisasi akan berjalan baik apabila terdapat prinsip-prinsip yang menjadi landasan geraknya. prinsip-prinsip itu di antaranya :
1.      perumusan tujuan
tujuan organisasi harus jelas dan diketahui oleh seluruh elemen yang terkait dalam organisasi itu. dengan tujuan tertentu, aktivitas-aktivitas yang dilakukan akan mengarah pada tujuan yang telah dirumuskan itu.
2.      pembagian kerja
untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, perlu adanya pembagian tugas yang jelas. tanpa pembagian tugas yang jelas, akan terjadi tumpang tindih pekerjaan dan dari sini akan terjadi pemborosan.
3.      pembagian wewenang
dengan kekuasaan yang jelas pada masing-masing orang/kelompok dalam suatu organisasi, maka dapat dihindarka terjadinya benturan kepentingan dan tindakan. hal itu dimungkinkan karena setiap orang akan mengetahui batas-batas wewenang untuk bertindak.
4.      kesatuan komando
dalam system organisasi yang baik harus ada kesatuan komando/perintah agar tidak terjadi kebingungan di tingkat pelaksana. oleh karena itu, dalam system organisasi perpustakaan perlu dihindarkan adanya dualism pengaruh dan kekuasaan dalam berbagai tingkat manajerial, baik pada manajer puncak, manajer menengah, maupun manajer lini.
5.      koordinasi
koordinasi merupakan proses pengintegrasian tujuan pada satuan-satuan yang terpisah dalam suatu lembaga untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien, koordinasi ini sagat penting bagi suatu lembaga untuk menyatukan langkah, mengurangi benturan tugas, dan mengurangi timbulnya konflik internal.

struktur organisasi merupakan mekanisme formal untuk pengelolaan diri dengan pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berbeda-beda. oleh karena itu, struktur organisasi yang baik akan mencakup unsur-unsur spesialisasi kerja, strukturisasi, sentralisasi, dan koordinasi (Handoko, 1993:164)

Dalam system penyusunan struktur organisasi sutau lembaga (termasuk perpustakaan) dikenal beberapa prinsip, yakni prinsip kesatuan komando (unity of command), pembagian wewenang (scalar principle), dan jangkauan pengawasan (span of control) (Golden, 1984:25). prinsip kesatuan komando yakni suatu system pembagian wewenang dan tanggung jawab kepada bawahan dari suatu perintah/komando secara terpusat, baik dalam pelaksanaan tugas rutin maupun penilaian terhadap karyawan. dengan prinsip ini para karyawan dari berbagai unitbagian dapat terlindung dari berbagai kesalahan dan konflik social. prinsip pembagian wewenang yakni wewenang didelegasikan ke bawah dari pemegang kekuasaan tertinggi kepada pemegang jabatan/posisi yang lebih rendah melalui hierarksi supervise dan penjenjanga. dalam prinsip ini, setiap karyawan harus memahami secara jelas batas-batas kewenangan dan tanggung jawab masing-masing, serta sejauh mana hubungan kerja antara  satu dengan yang lain. prinsip jangkauan pengawasan dapat dilakukan system pengawasan dan pengembangan suatu organisasi. hal ini dikarenakan dalam system ini selalu memperhatikan pada jumlah staf dan karyawan yang dalam pengawasannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

penentuan bagan organisasi perpustakaan dapat disesuaikan dengan besar kecilnya kekuasaan dan kewenangan pegawai. untuk itu dapat dipilih dari bentuk-bentuk pyramid, vertical, horizontal, dan bentuk lingkaran.
dari segi lain, kelancaran tugas perpustakaan dipengaruhi oleh sejauh mana keberhasilan intregasi di antara unit-unit/ bagian dalam organisasi itu sendiri. oleh karena itu, perlu diperhatikan adanya pengelompokan kegiatan-kegiatan dalam perpustakaan itu sendiri. dalam system pengelompokan unit ini terdapat banyak system yang dapat dipilih oleh perpustakaan, anatar lain system pengelompokan berdasarkan aspek berikut :
1)      fungsi
2)      produk (barang dan jasa)
3)      wilayah
4)      pelayanan
system pengorganisasian perpustakaan yang proporsional perpustakaan akan menumbuhkan kreativitas, adanya kelancaran komunikasi dan interaksi antarindividu dan antarunit kerja. keberhasilan organisasi peprpustakaan dipengaruhi oleh desain yang mengarah pada inovasi dan perubahan (Bryson, 1990:157)
struktur organisasi perpustakaan perguruan tinggi
status perpustakaan dalam struktur organisasi secara makro dan mikro sangat mempengaruhi kinerja dan penyediaan fasilitas perpustakaan. selama ini status perpustakaan perguruan tinggi negeri maupun swasta masih bervariasi, ada yang di bawah tata usaha, dan ada yang di bawah wakil rector bidang administrasi dan keuangan, dengan alas an bahwa tugas perpustakaan adalah tugas administrative. ada pula status perpustakaan di bawah wakil rector III bidang kemahasiswaan dan alumni dengan alas an bahwa pelayanan perpustakaan ditujukan kepada mahasiswa dan dosen. selain itu ada pula yang status perpustakaan di bawah wakil rector bidang akademik, dengan alas an bahwa aktivitas perpustakaan adalah aktivitas akademik yang bergerak dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.
 





D. Penganggaran
Salah satu syarat penting dalam penyelenggaraan perpustakaan adalah anggaran yang memadai. tanpa anggaran yang pasti, perjalanan perpustakaan akan tersendat-sendat. anggaran erat hubungannya dengan proses perencanaan lembaga, karena seluruh sumber daya dan kegiatan aka memerlukan aanggaran untuk mencapai tujuan perpustakaan atau pusat informasi (Bryson, 1990:345). penganggaran adalah suatu rencana yang membuat penerimaan dan pengluaran yang sudah dinyatakan dalam jumlah uang. anggaran ini biasanya disusun setiap tahun. oleh karena itu, Kertonegoro (1983:175) menyatakan bahwa anggaran adalah laporan formal mengenai sumber-sumber keuangan yang disishkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. anggaran ini memuat rencana penerimaan, pengeluaran, perkiraan kekayaan, modal, penghasilan, dan biaya yang akan dating. Angka-angka  yang menunjuk jumlah mata uang itu akan menjadi standar untuk pengukuran kegiatan masa mendatang.
A.    fungsi
perlunya penyusunan anggaran bagi suatu lembaga/instansi diharapka mampu berfungsi sebagai :
1. alat perencanaan
perencanaan dan pengambilan keputusan tentang suatu langkah mendatang memerlukan perhitungan yang matang untuk mengetahui kelayakan, baik dari segi ekonomi maupun segi operasional. anggaran yang menunjukkan ketudaklayakan harus diubah sedemikian rupa dan didesain agar sesuai dengan keinginan.
2. alat koordinasi
dalam penyusunan perencanaan, akan terkait berbagai bidang, dan unit dalam suatu lembaga. maka apabila terjadi ketidaksesuaian antarbidang/unit, dapat dirundingkan kembali bagaimana baiknya.
3. alat pengendalian
salah satu tujuan pengendalian adalah agar sasaran yang telah dtetapkan dapat dicapai. oleh karena itu, dengan memperhatikan anggaran dan realisasinya akan mudah diketahui jika terdapat penyelewengan. dengan demikian akan segera diadakan peringatan dan pembetulan, yakni dengan mengatur langkah-langkah yang perlu diambil.
4. menetapkan standar kegiatan yang akan dilaksanakan
dengan anggaran yang pasti, seluruh kegiatan dalam lembaga dapat segera dilaksanakan sesuai perencanaan karena adanya jaminan biaya. bagaimanapun bagusnya, apabila tidak jelas anggarannya, maka progam itu akan tersendat-sendat.
anggaran dapat disusun apabila telah memiliki progam kerja. progam kerja dapat disusun apabila strategi jangka panjnag telah ditetapkan. strategi dapat disusun apabila sasaran telah ditetapkan. anggaran digunakan sebagai alat untuk menjamin agar sasaran jangka pendek dan jangka panjang dapat dicapai dengan cara membandingkannya dengan realita.

B.     macam-macam anggaran
penyusunan anggaran dapat ditinjau dari segi waktu dan segi penggunaan.
1. segi waktu
dari segi waktu anggaran dapat dibagi menjadi anggaran berkala dan anggaran bersinambung :
a.       anggran berkala
anggaran ini disusun secara berkala atau mengikuti waktu. misalnya anggara bulanan, triwulan, semesteran, tahunan, lima tahunan, dan seterusnya. penyusunan anggaran model ini dimaksudkan agar segera diketahui adanya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin sewaktu-waktu terjadi. dengan adanya control, maka akan segera dapat ditentukan alngkah praktis untuk mengatasinya.
b.      anggaran sinambung
anggaran ini disusun secara bersambung secara terus-menerus, dari bulan ke bulan berikutnya, dari triwulan ke triwulan berikutnya, dari tahun ke tahun berikutnya. dalam setiap oganisasi memiliki cara penyusunan anggaran tersendiri dan setiap system pasti ada kekurangan dan kelemahannya.
2. segi penggunaan
apabila ditinjau dari penggunaannya, anggaran dapat dibagi menjadi anggaran keuangan dan anggaran operasional.
a.       anggaran keuangan
yakni system penyusunan anggaran yang mampu menunjukka proyeksi posisi keuangan suatu organisasi/lembaga di masa mendatang yang ditunjukkan dalam anggaran neraca. anggaran keuangan ini dapat terdiri dari anggaran kas, piutang, persediaan, investasi, penyusutan, dan neraca.
b.      anggaran operasional
yakni system penyusunan anggaran yang mampu menunjukkan proyeksi posisi keuangan pada masa dating dan ditunjukkan dalam ikhtisar anggaran rugi laba. anggaran operasional ini terdiri dari anggaran penjualan, biaya produksi, biaya umum, upah langsung, dan lainnya.

E. Kepemimpinan
kepemimpinan adalah masalah hubungan antara yang dipimpin dan pemimpin. dalam hal ini kepemimpinan pada umumnya berfungsi atas dasar kekuasaan pimpinan dalam usaha mengajak dan menggerakkan orang lain untuk melakukan kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan lembaga.

a. pendekatan kepemimpinan
banyak studi tentang kepemimpinan, namun ternyata belum/tidak mampu mengungkapkan sifat tunggal yang dimiliki oleh pemimpin yang baik. setiap pemimpin yang dianggap berhasl memiliki gaya, metode, maupun pengetahuan yang berbeda. hal ini karena perbedaan system, kultur, maupun kondisi yang dipimpin. selain itu, setiap orang memiliki gaya kepemimpinan sendiri-sendiri. berbagai studi tentang kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yakni pendekatan sifat (traits), perilaku (behavior), dan factor situasional (contingency) (Heidjarahman, 1996:217).
1.      teori sifat
teori dan penelitian tentang sifat kepemimpinan ini dimulai sekitar tahun 1904 dan berkembang secara sistematis selama lebih dari 50 tahun menjadi wadah teori, informasi, dan kesimpulan. teori ini menyatakan bahwa ada seperangkat tetap cirri pribadi maupun sifat intern yang membedakan pemimpin efektif dan tidak efektif (Owen dalam Timpe, 1999:258). dalam teori ini dinyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karenba mempunyai bakat dan pembawaan yang sejak kecil sudah terlihat sifat kepemimpinannya. memang dia dilahirkan ke dunia untuk menjadi pemimpin (man be born a leader)
2.      teori perilaku
perilaku pemimpin dapat dipelajari, maka menurut teori ini seseorang dapat dilatih dengan kepemimpinan yang tepat agar menjadi pemimpin yang efekktif. perilaku ini sering disebut dengan gaya kepemimpinan (style of leadership). gaya merupakan tinghkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan sikap dan tujuan organisasi dengan tujuan iundividu untuk mencapai tujuan tertentu.
Hines dalam Timpe (1999:121) menyatakan bahwa terdapat tiga gaya kepemimpinan, yakni otokrasi, demokratis, dan kendali bebas. pemimpin otokras adalah pemimpin yang membuat keputusan sendiri karena kekuasaan terpusatkan pada diri seseorang. dalam kepemimpinan ini keputusan dipaksakan dengan menggunakan imbalan dan kekhawatiran untuk dihukum. pimpinan dapat saja memberikan perintah, pujian, maupun menuntut loyalitas bawahan. system ini kadang membuat bawahabn merasa tertekan, takut dan terpaksa mengakui seolah-olah ikut dalam pembuatan keputusan, padahal mereka itu hanya mengerjakan apa yang dikehendaki oleh atasan.
pemimpin demokratis adalah pemimpin yang dalam pengambilan keputusan berkonsultasi dengan kelompok mengenai masalah yang menarik dan penting. dengan demikian, terdapat dua keputusan yang akan mendorong adanya komitmen anggota pada keputusan akhir.
pemimpin kendali bebas yakni gaya kepemimpinan yang membagi kekuasaan kepada bawahan agar mereka dapat mengembangkan saran mereka dan memecahkan masalah mereka sendiri.
gaya kepemimpinan ini memang cocok untuk kalangan professional yang telah memiliki motivasi tinggi.
3.      teori situasional
teori ini mnyatakan bahwa gaya kepemimpinan dan manajemen harus disesuaikan dengan lingkungan dan stuasi dalam organisasi (Lumbarton, 1990:115). oleh karena itu, keberhasilan suatu organisasi juga tergantung pada kemampuan pimpinan untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan an kondisi lingkunagn dalam organisasi itu (Winardi, 1990:31).




















BAB III
PEMBAHASAN

A.    Profil Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang
Visi:
“ Mewujudkan perpustakaan polines sebaga pusat layanan informasi berbasisi teknologi informasi yang terkemuka, diakui, dan berdaya saing”.
Misi:
1.      Menjadi pusat informasi ilmiah bagi sivitas akademika polines
2.      Menjadi sarana pengembangan sumber informasi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi
3.      Mendukung kurikulum politeknik negeri semarang dalam menyedikan sumber informasi terbaru yang berorientasi pada kebutuhan pemustaka.
Motto:
“RAMAH, TANGGAP, CEPAT, DAN TEPAT”

B.     Jam Buka Layanan
Waktu layanan
            Senin-kamis     : 08.00-17.00 WIB
            Jum’at             : 08.00-17.00 WIB
            Istirahat           : 11.00-13.00 WIB
            Sabtu dan minggu : Libur

C.    Keanggotaan
Seluruh sivitas akademika Politeknik Negeri Semarang dapat menjadi anggota perpustakaan POLINES, dengan syarat keanggotaan sebagai berikut:
a.       Sivitas akademika polines
-menyerahkan pas foto berukuran 2x3 cm, berwara 1 lembar
-menunjukkan kartu mahasiswa yang berlaku
-membayar biaya administrasi sesuai ketentuan yang berlaku
            b.   alumni dan masyarakat umum
                   bagi alumni POLINES dapat memanfaatkan koleksi dan fasilitas      perpustakaan POLINES sesuai ketentuan yang berlaku.

D.    Struktur Organisasi Perpustakaan








Rounded Rectangle: KETUA PERPSUTAKAAN




Rounded Rectangle: SEKRETARIS

 



Rounded Rectangle: BID. PENGEMBANGAN LAYANAN SIRKULASIRounded Rectangle: BID. PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KERJASAMARounded Rectangle: BID. PENGEMBANGAN LAYANAN PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA                                                                                                                                                                             




Dalam pembentukan struktur organisasi perpustakaan Politeknik Negeri Semarang sudah memenuhi standar pembentukan bagan organisasi perpustakaan Perguruan Tinggi. Pembentukan struktur tersebut sudah disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan dan yang lebih utama adalah adanya bidang pengembangan teknologi informasi dan kerjasama yang sangat sesuai dengan visi misi dari universitas dan perpustakaan sendiri. Oleh karena itu pembentukan organisasi di pepusakaan POLINES dikira sudah cocok dengan keadaan.
E.  Staf Perpustakaan
Staf PNS
Pendidikan :
      S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi              : 4
      S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi              : 5
      D3 Ilmu Perpustakaan dan Informasi             : 3
                                          Jumlah                         : 13
Staf Honorer

Pendidikan :
SLTA                                                               : 1
                                    Jumlah                         : 1
                       
Komposisi jabatan di Perpustakaan Polines kondisi sekarang sesuai dengan jabatan fungsional adalah sebagai berikut :
NO
NAMA JABATAN
NAMA PUSTAKAWAN
PENDIDIKAN
JMLH

Pustakawan Ahli



1
Pustakawan madya
-Sri Sumarsih, S.Sos.,M.IP
-Drs. Widodo Mulyo Rusdihanto
Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi
2 orang

Perpustakaan muda
-Moh. Syam Suryanto, S.Sos
-Faisal ismail, S.S
- Hening Vidiningrum, S.S
- Nurul Qurniati, S.Sos
Tatik sayekti, S.S
-Suwarno, S.Sos
-Sarjana administrasi niaga
-sarjana ilmu perputakaan
- sarjana ilmu perpustakaan
-sarjana ilmu perpustakaan
-sarjana ilmu perpustakaan
-sarjana ilmu perpustakaan
6 orang

Pustakawan Terampil



3.
Pustakawan pelaksana
-Arko Prambudi, Amd
- D3 Perpustakaan
1 orang
4.
Pustakawan pelaksana lanjutan
-Ratna Handayani
- D2 perpustakaan
1 orang
5.
Pustakawan penyedia
Joko Mustofa, Amd
-D3 Perpustakaan
1 orang






            Dalam bidang ketenagakerjaan Perpustakaan POLINES sudah cukup memenuhi kebutuhan dan syarat perpsutakaan Perguruan Tinggi, karena sudah ada pustakawan ahli dan pustakawan terampil. Suatu perpustkaan perguruan tinggi minimal harus ada pustakawan ahli, karena memang merekalah yang tahu banyak dan dipercaya dapat mengelola perpustakaan dengan baik. Untuk penempatan pegawai perpustakaan POLINES sudah sesuai karena telah menempatkan posisi sesuai dengan keahlian mereka. Dan hampir kesemuanya adalah berlatarbelakang pendidikan perpustakaan.
            Sedangkan untuk pengadaan pegawai, perpustakaan POLINES biasanya menetapkan standar atau syarat-syarat yang sesuai dengan apayang diharapkan dari perpustakaan. Dari pihak universitas menawarkan lowongan sesuai dengan kriteria yang dibuat oleh perpustakaan. Dengan kriteria tersebut, pihak perpustakaan bisa menyeleksi calon pegawai yang akan diterima. Usaha ini termasuk kegiatan perencanaan pengadaan pegawai baru.
F.     Perencanaan Penganggaran
Perpustakaan POLINES membuat perencanaan penganggaran tahunan dan jangka panjang. Untuk yang tahunan, Dalam satu tahun perpustakaan membuat kegiatan sebanyak 12 kegiatan. Artinya, setiap satu bulan pasti ada kegiatan. Kegiatan yang direncanakan masuk dalam rencana kegiatan satu tahun dan sudah mencakup semua bidang. Mulai dari pengadaan bahan pustaka, kerjasama, humas, dsb. Sedangkan untuk yang jangka panjang, mereka mempunyai perencanaan untuk penataan infrastruktur dalam bidang pengembangan teknologi informasi. Tetapi dalam kegiatannya mereka tidak lepas dari hambatan. Hambatannya adalah masalah anggaran yang diberikan dari pihak universitas yang sering telat. Karena anggaran turun ketika proposal sudah diserahkan pada pihak universitas dan diberikan setiap bulan. Jadi seringnya telat mengakibatkan kegiatan yang direncanakan pada bulan-bulan sebelumnya kadang terhambat untuk direalisasi.
G.    Partisipasi Anggota
Perpustakaan POLINES cukup ramai dikunjungi oleh mahasiswa. Jika dihitung dari total jumlah mahasiswa yaitu 3000an mahasiswa didapatkan bahwa pengunjung perpustakaan rata-rata 200 per hari. Kendala yang dirasakan adalah kurang tersedianya ruang atau gedung. Untuk standar gedung perpustakaan universitas ruangan sebesar itu memang belum bisa efektif. Sudah ada usaha permintaan ke pihak rektorat untuk penambahan gedung, tetapi tidak bisa terealisasikan.
H.    Fasilitas Pegawai
Selain dituntut untuk bekerja, pegawai perpustakaan diharuskan paham dan mahir dalam setiap bidang di perpustakaan. Apalagi seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi sekarang ini, pegawai perpustakaan atau pustakawan harus bisa menguasai bidang tersebut. Untuk itu perpustakaan POLINES menyediakan fasilitas kepada pegawainya berupa pelatihan-pelatihan terkait dengan bidang perpustakaan. Selain itu mereka juga selalu dikirim sebagai delegasi pada waktu ada pelatihan di luar.
I.       Jenis-jenis Fasilitas Perpustakaan
Ada beberapa fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan POLINES, di antaranya:
a.       Layanan sirkulasi
Layanan sirkulasi merupakan layanan yang diberikan pengguna untuk dapat meminjam bahan pustaka berupa buku teks, yang dipinjamkan selama 1 minggu. Ketentuan jumlah koleksi buku teks yang dipinjam, dibedakan sebagai berikut :
-          Mahasiswa sebanyak 2 ekslempar
-          Dosen dan karyawan sebanyak 3 ekslempar
Koleksi buku C1 (cadangan) dikembalikan pada hari itu juga.
b.      Layanan penelusuran
Layanan penelusuran dilakukan dengan menelusur koleksi menggunakan katalog manual dan katalog online/OPAC (Online Public Access Catalogue).
c.       Layanan pendidikan pemakai
Layanan pendidikan pemakai adaah layanan perpustakaan yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru maupun lama guna memperkenalkan bagaimana cara memanfaatkan dan menggunakan fasilitas perpustakaan.
d.      Layanan referensi
Layanan referensi adalah layanan berupa penyediaan bahan pustaka berupa, buku-buku terbitan pemerintah, kamus, handbook, manual, jurnal, laporan penelitian, pengabdian masyarakat, dan tugas akhir. Koleksi ini tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang dan hanya bias dibaca di perpustakan.
e.       Layanan kartu anggota
Layanan kartu anggota dan kartu baca adalah layanan pembuatan kartu anggota perpustakaan agar dapat meminjam koleksi yang dimiliki perpustakaan. Layanan keanggotaan di UPT Perpustakaan POLINES memberikan kesempatan bagi semua sivitas akademika dan masyarakat umum dari luar polines dengan syarat yang berlaku. Bagi masyarakat umum hanya diberikan untuk membaca dan memfoto kopi koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan.
f.       Layanan internet
Layanan internet adalah layanan pemberian jasa untuk dapat mengakses internet yang digunakan sebagai sarana browsing informasi kebutuhan untuk menunjang pembelajaran.
Jam buka layanan akses internet:       
Senin-jum’at                : 08.00-17.00 WIB
Jum’at                         : 11.00-13.00 WIB
Layanan situs jejaring (facebook) dibuka mulai jam 15.00 WIB
g.      Layanan scanning dokumen dan printing
Layanan scanning dokumen adalah pemberian jasa bagi sivitas akademika yang membutuhkan proses scan untuk memperoleh dokumen menjadi bentuk lainnya. Printing adalah layanan bagi sivitas akademika yang mebutuhkan suat dokumen yang sudah berbentuk file PDF ke dalam media bentuk cetak.
h.      Layanan kartu bebas pinjam pustaka
Layanan kartu bebas pinjam merupakan layanan yang diberikan kepada pengguna sivitas akademika Politeknik Negeri Semarang yang memerlukan surat bebas pinjam sebagai syarat untuk pengambilan daftar ulang dan ijazah.
Syarat memperoleh kartu SBPP
-          Menyerahkan Kartu Anggota Perpustakaan
-          Persyaratan dan aturannya sesuai ketentuan yang berlaku
i.        Layanan multimedia
Layanan ini disediakan bagi pengguna yang memerlukan koleksi CD, program CD, majalah, CD buku, CD soft copy, TA/LA, DVD, kaset, disket. Koleksi ini dapat diakses melalui computer di bagian layanan teknologi informasi.
j.        Layanan audiovisual
Layanan ini berupa tempat rekreasi yang disediakan bagi sivitas akademika untuk memutar film maupun untuk berdiskusi maupun tempat rapat.
Ketentuan penggunaan ruang audiovisual
-          Pemustaka mendaftar di bagian sirkulasi
-          Menulis buku daftar penggunaan ruang
-          Meninggalkan kartu anggota perpustakaan
-          Batas waktu penggunaan Selama 2 jam
J.      Kepemimpinan  dan Pengawasan
Kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala perpustakaan POLINES sudah cukup baik. Menurut salah satu pegawai yang sudah diwawancarai, beliau sudah bisa mengkoordinasi pegawainya dengan baik. Beliau juga sudah memenuhi persyaratan atau kriteria menjadi seorang kepala perpustakaan sesuai dengan teori.  Sebagai seorang kepala perpustakaan butuh sekali adanya komunikasi yang baik antar pegawai. Untuk kaitannya koordinasi atau pengawasan, beliau selalu melakukan rapat bersama staf 3 bulan sekali untuk mengecek dan melihat perkembangan apa saja yang dilakukan serta membahas permasalahan jika ada. Selain itu, tiap bagian telah dibentuk koordinasi masing-masing dan sering melakukan rapat antar koordinator saja, sehingga lebih mudah pengawasannya. Sedangkan koordinasi kepada pihak rektor adalah sebulan sekali biasanya pada hari rabu.






















BAB IV
KESIMPULAN
Suatu perpustakaan membutuhkan adanya suatu manjemen yang baik. Dalam manajemen perpustakaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, kepemimpinan, dan pengawasan. Dari masing-masing hal tersebut terdapat bagian-bagian lagi yang perlu dilakksanakan. Tahap perencanaan merupakan titik awal dalam pelaksanaan semua kegiatan. Dalam perencanaan harus diperhatikan secara matang karena akan berpengaruh pada kondisi dan tujuan ke depan.  Untuk pengorganisasian berhubungan pada staffing dan penempatan pegawai yang benar-benar sesuai dengan kemampuan.untuk penganggaran, berkaitan dengan anggaran dana yang dikeluarkan untuk pengembangan perpustakaan. Dalam penganggaran harus diperhatikan dengan kebutuhannya. Sedangkan kepemimpinan berkaitan dengan kerja pemimpin dalam mengkoordinasi pegawainya. Bagaimana pemimpin bisa menjalankan komunikasi, memberi motivasi, dan mengatur jalannya kepemimpinan dengan baik antar semua pegawai. Selain itu pemimpin harus bisa mengawasi kinerja pegawai dan selalu memantau perkembangan yang terjadi.












DAFTAR PUSTAKA
Lasa HS. 2005. Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta : Gama Media.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;